Matematika Berkarya – Sabda Semoga oleh Bunda
“Sabda Semoga oleh Bunda”
Pukul dua tiga delapan pagi, alih-alih ku berkelok di alam mimpi, kedua mataku memilih untuk terang. Telinga ini berangsur-angsur pengang. Sebab pesta pora masih terdengar ricuh di beranda belakang kepala. Yang mampu kupahami hanya, pikiranku berkelana. Ia berpapasan dengan memori dan untaian frasa yang dibuat penuh cinta oleh Lail. Si penulis sajak indah handal yang memilih berhenti menulis buku yang sampai sekarang masih laris terjual di khalayak ramai dan beralih membesarkan anaknya dalam dekapan hangat. Bunda dan mimpi kecilnya terputus karena kehadiranku pada poros hidup Bunda.
Aku pernah bertanya kepada Bunda, “Apa bunda pernah sesekali menyesal karena akhirnya memutuskan berhenti menulis?”
Bunda tersenyum kepadaku dan menjawab, “Tidak sekalipun pikiran itu terlintas pada benak Bunda. Aris harus tau bahwa berkarya ialah seputar kebebasan. Bunda punya kebebasan untuk menuliskan isi kepala bunda menjadi untaian frasa indah. Lalu sisanya, Bunda juga miliki kebebasan untuk memilih berhenti menulis naskah yang nantinya dibaca khalayak”
“Lalu kemana Bunda menyalurkan isi kepala bunda?” tanyaku lagi, masih penasaran.
“Sejak hadirnya presensimu di poros hidup Bunda, isi kepala Bunda hanya sesak dipenuhi semua hal tentangmu. Tentang pipimu yang mengembang bak adonan roti, tentang mata bulat besar milik Aris yang selalu berbinar ketika Bunda menatapnya, tentang gigi susu Aris yang mulai tumbuh, tentang hari baik dan burukmu. Semua hal tentangmu lainnya tak bosan-bosan akan selalu Bunda catat hingga kantuk” ujar Bunda, sambil menyisir rambut hitam legam milikku.
“Bunda memang berhenti menulis untaian frasa dalam buku untuk dibaca orang. Namun Bunda tak berhenti menulis untaian frasa indah tentangmu untuk kamu seorang yang membaca. Karena Bunda ingin Aris nantinya jika sudah dewasa, bisa kembali mengingat kecilnya Aris lewat tulisan Bunda” lanjut Bunda.
Bunda dan berjuta kesudiannya hanya demi diriku seorang. Ia sudi meninggalkan mimpinya diatas langit demi menggapaiku dengan dekapan hangat. Ia sudi menangkapku dari mara bahaya, serta terjangnya bentala. Ia sudi menunggu untuk merengkuhku kembali dari kelana yang mustahil mudah. Ia sudi berikan dunia yang telah ia pitakan sukacitanya dan berikan seutuhnya untukku. Bahkan, aku dengan yakin bisa katakan, Bunda sudi menghabiskan sisa nafas hidupnya di dunia dengan menulis untaian frasa indah tentangku, karena aku tidak pernah meragu kesudian Bunda.
Kembali aku terlintas kilas balik tentangku dan Bunda ketika kita masih sama-sama sedekat nadi, aku berusaha untuk kembali memusatkan atensiku pada lembaran demi lembaran digenggamanku. Aku membaca pelan. Teliti menyusuri tanda baca dengan hati-hati pada lembaran buku yang sudah mulai cokelat usang kertasnya. Ada kata yang tertera apik disana, melebur bersama kalimat utuh sebelum frasa menjumpai titik, perputaranmu.
Halaman demi halaman aku sambangi, sabda semoga Bunda di setiap perputaran umurku berhasil membuat hatiku kembali berat. Benar kata Bunda, bahwa sesaat setelah aku lahir, Bunda hanya akan menghabiskan waktunya dengan membuat sajak berisi untaian frasa indah tentangku. Barangkali jika pena yang dipakai Bunda untuk menulis sajak indah tentangku bisa bercakap, dipastikan keluhannya perihal kata yang sering memenuhi halaman selanjutnya, tanpa habis; Aris anak kecil Bunda.
Perputaranmu ke-satu;
Bahagia dan hangat, mungkin itu kata yang tepat untuk mewujudkan bagaimana hadir serta bentuk cintamu ada di bentala sayangku. Aris anak kecil Bunda, hadirmu adalah tentram yang melebihi laut paling tenang di jagat yang riuh rendah bergerak cepat yang tak memberi Bunda kesempatan untuk sejenak bernafas. Kamu adalah damai yang Bunda dambakan hadirnya dalam hidup Bunda. Yang menawarkanku tenang dengan sebuah sederhananya bahagia. Aris anak kecil Bunda, terima kasih sudah tinggal di dunia yang ada presensi Bunda didalamnya. Serta mulia, serta mulia Aris anak kecil bunda.
Perputaranmu ke-dua;
Aris, anak kecil Bunda, lakukan apa yang membuat hatimu penuh bertumpah ruah. Aris lagi-lagi boleh minta Bunda untuk membacakan dongeng “Genie dan lampu ajaibnya”, Bunda tak akan menuntut bosan membacakannya sebelum Aris tidur. Bunda ingin melihat kedua bola matamu penuh suka cita serta jadikan kedua lesung pipi itu seperti adonan kue yang mengembang. Karena hari ini, harimu. Harimu untuk mendapat kasih sayang yang berlimpah dan tumpah ruah sampai-sampai hatimu bisa meledak karenanya. Harimu untuk menjadi yang paling berbahagia, disayang dan penuh hangat di buana. Serta mulia, serta mulia, Aris anak kecil bunda.
Belum selesai aku membaca sajak pada halaman berjudul “perputaranmu ke-dua”, aku lantas menutup buku usang itu. Tak kuasa. Aku tak punya kuasa untuk membendung perasaanku. Membendung tangisku. Rasa bersalah kembali bermuara dihati dan pikiranku. Ini kali pertama aku membaca sajak yang Bunda berikan kepadaku setiap aku bertambah umur. Namun aku sampai hati lupa membukanya atau bahkan meluangkan waktu hanya untuk membacanya. Aku memejamkan mataku, namun yang kutemui hanya kilas balik memori tentang aku, Bunda dan Ayah. Sebelum aku dan Bunda tak kembali dekat setelah kepergian Ayah. Baik aku dan Bunda sama-sama tidak ingin membagikan isi kepalanya dan lebih memilih untuk mendamaikannya sendiri. Aku terus terpejam pada memori kilas balik itu dan memilih egois, aku tak punya keinginan untuk membuka mataku, karena ini, terlampau bahagia, indah dan hangat.
Perputaranmu ke-delapan belas;
Aris, anak kecil Bunda yang sekarang sudah menginjak umur delapan belas. Pada perputaranmu kali ini, semoga Aris tumbuh dengan akar yang kuat, besar dalam tangkai daun sejuk yang mampu menjaga dari panas maupun dinginnya sekitar. Semoga baik-baiknya dunia sering berpihak padamu dan buruk-buruknya lari menjauh darimu selama kamu masih hidup. Kamu punya tiap detik di dunia, tak apa untuk jadi egois sekali waktu saja. Bumi akan tetap berputar dan kamu akan baik-baik saja. Aris boleh sesekali mengaku kalah, melangkah mundur dan runtuh, maka akan Bunda pastikan kedua tapak Bunda siap menangkapmu dari mara bahaya.
Bunda harap bahagia menjadi kawan utamamu. Semoga Aris menjadi pribadi yang lebih mengenal diri sendiri dan memeluknya dalam-dalam ketika tak ada dekapan hangat dari Bunda lagi. Semoga selalu ingat Allah. Semoga Aris anak kecil Bunda tak mudah meninggikan nada pada orang-orang yang tidak sejalan denganmu. Semoga kalau Aris punya cinta, entah itu cinta untuk seseorang atau cinta yang niatnya dibagi, semoga cintanya akan selalu berbalik terbalas. Aris, anak kecil Bunda, kalau rapalan rapalan doa milik Bunda dan bentuk sayang paling hangat ada wujudnya. Ialah kamu.
Bunda rindu presensi Aris di samping bunda. Bunda rindu membacakan Aris dongeng “Genie dan lampu ajaibnya” sebelum Aris terlelap tidur meringkuk memeluk bunda diatas ranjang. Bunda rindu menyisir rambut hitam legam milik Aris. Bunda rindu mendengar cerita tentang hari baik dan buruk yang Aris jalani. Rapalan maaf selalu Bunda gumamkan ketika melihat punggungmu yang kembali menjauh. Maaf Bunda dengan bodohnya memilih ego dan berlarut dalam duka lantas dengan sejenak melupakan bahwa Aris juga butuh presensi Bunda. Hingga akhirnya sekarang Aris punya kuasa untuk tumbuh dewasa tanpa presensi Bunda lagi.
Acapkali Bunda berpikir, andai untuk perputaranmu selanjutnya, tak lagi Bunda bisa catat hari baik dan burukmu sampai kantuk. Namun Bunda ingin kamu mengingat, bahwa Bunda akan dan selalu merapalkan doa-doa baik untukmu entah itu di dunia ini maupun di dunia seberang. Untuk perputaranmu ke-sembilan belas dan selanjutnya, Bunda hanya ingin kamu menjadi utuh dan cukup. Serta mulia, serta mulia Aris anak kecil Bunda. Bunda akan selalu sabar menyambut kamu pulang dari perputaranmu yang mustahil mudah di setiap tahunnya.
Dan pada lembaran yang menunjukkan sabda semoga Bunda untukku diumur ke-delapan belas, menjadi sajak terakhir yang aku baca dari Bunda. Selanjutnya tak ada lagi untaian frasa indah yang ditulis Bunda untuk merayakan bertambahnya umurku. Tak ada lagi paragraf semoga dari Bunda yang memenuhi isi kepalaku. Tak ada lagi Bunda yang menemaniku membacakan dongeng untukku sebelum aku tertidur. Tak ada lagi kata “maaf” dan “terima kasih” disetiap untaian frasa yang Bunda sisipkan untukku. Tak ada lagi kertas cokelat yang Bunda letakkan di sebelah kue cokelat buatan bunda untuk merayakan hariku. Tak ada lagi Bunda yang akan mencatat hari baik dan hari buruk yang aku jejak. Tak ada lagi Bunda yang sabar menyambutku pulang dari perputaranku tiap tahun yang semakin terjal. Tak ada lagi Bunda. Bunda telah pergi ke dunia tanpa ada presensiku di dalamnya.
Sesaat setelah bunda pergi, hidupku mustahil mudah. kepergian Ayah dua tahun lalu masih meninggalkan duka terdalam bagiku. Sekarang, Bunda ikut pergi menyusul Ayah. Rasanya aku tak bisa lagi berdiri tegak melawan deras terjangnya pada poros hidupku tanpa presensi Bunda dan Ayah.
Kemudian, seminggu setelahnya, ketika sentimen tentang kepulangan Bunda lambat laun mulai surut, aku memberanikan diri menulis untuk perputaran Bunda ke-empat puluh tiga walau terlambat.
Perputaran bunda ke- empat puluh tiga;
Bunda, jika sentimen tentang menjadi tua dan sepi mulai singgah di kepala, aku harap bunda tau, bahwa aku masih milik Bunda disetiap mimpi baik malam hari nanti. Aku harap Bunda tahu, bahwa aku tak sampai hati dan berat hati ketika mengingat Bunda dan segala bentuk kasih sayang, dekapan, rapalan doa, dan untaian frasa kasih sayang Bunda yang semua terlampau hangat dan indah yang bahkan aku merasa tak cukup mampu membalasnya kepada Bunda. Bunda pernah berkata, boleh untuk jadi egois sekali saja, maka aku ingin bunda hidup panjang seorang. Namun tak sempat aku egois, Bunda sudah pergi.
Bunda pernah berkata, bahwa Aris punya kuasa untuk tumbuh tanpa presensi Bunda. Nyatanya segalanya tak lagi sama setelah selepas presensimu lenyap dari ujung netra. Nyatanya semua kehangatan dan cinta kasih yang kerap Bunda beri turut angkat kaki juga bersama kepulangan Bunda. Bunda, Aris tak punya kuasa untuk tetap berdiri tanpa presensi Bunda.
Dulu ketika jarak pandangku masih belum sama dengan manusia dewasa, Bunda selalu bercerita. Tentang hal-hal diluar imajinasi dan sehat akal pikir pikiran. Begitu banyak, tentang ksatria dan naga miliknya, kastel di atas awan, atau bahkan penyihir dengan tongkat sihirnya. Namun, yang selalu menjadi dongeng yang kutunggu untuk Bunda bacakan adalah tentang “Genie dan lampu ajaibnya”. Dongeng yang begitu menggugah hati anak kecil sepertiku karena mendapatkan tiga permintaan yang akan dikabulkan begitu saja.
Lantas Bunda bertanya, apa tiga permintaan yang aku damba untuk dikabulkan, tentu saja permintaan yang kusebut kala itu terkesan biasa saja. Mainan logo berbentuk kastel megah, cokelat dengan jumlah yang tak terhingga, satu tiket untuk taman bermain paling megah seantero jagat raya. Mimpi kecil yang menjadi poros duniaku saat belia. Jikalau Bunda bertanya pada saat ini, apa tiga permintaan yang akan kuminta, bukanlah lagi mainan lego, cokelat, dan semacamnya. Hal-hal yang setara dengan tiga permintaan tersebut sudah tidak lagi berporos pada dunia anak kecil ini.
Pertama, akan kuminta presensi Bunda lagi pada poros hidupku, jika aku punya kuasa untuk memutar waktu. Aku masih ingin mendengar Bunda membacakan dongeng untukku sebelum aku terlelap. Aku masih ingin mencicipi semua masakan Bunda yang dulu aku tak sempat cium harum aromanya. Aku masih ingin dekapan hangat Bunda sesaat setelah aku pulang ke rumah. Aku masih ingin Bunda.
Kedua, akan kuminta baik-baiknya dunia juga memihak pada Bunda. Aku ingin segala jahatnya bentala, untuk tidak pernah mencapai barang pucuk kepala Bunda sekalipun. Aku ingin pilah-pilah baiknya dunia, pitakan sukacitanya dan berikan seutuhnya untuk Bunda, seperti Bunda yang juga sudi melakukannya untukku seorang.
Ketiga dan terakhir, akan kuminta Bunda jumpa bahagia dan tenang di rumah baru Bunda.
Bunda banyak tunjukkan padaku bahwa mencinta berarti mampu memberi untuk kurang dan tetap memberi untuk berlebih dan bersedia tetap menampung untuk kau berikan. Seperti cinta tanpa pamrih yang bermuara di setiap perangai dan frasa yang Bunda tulis untukku. Bunda selalu menyisipkan kata “maaf” dan “terima kasih” disetiap sabda semoga. Maka kali ini, giliranku yang menuliskan kalimat “maaf” yang tak sempat Aris ungkapkan untuk Bunda.
Bunda, Aris anak kecil Bunda minta maaf tak pernah memahami bagaimana bentuk kasih sayang hangat nan indah yang Bunda berikan padaku tanpa pamrih. Terima kasih Bunda sudah menjagaku untuk tetap dalam porosnya. Terima kasih Bunda karena selalu sabar menyambutku pulang dari perputaran setiap umurku. Jika kalimat maaf dan terima kasih terus kutuliskan, mungkin tinta penaku akan habis Bun. Bunda, selebihnya aku akan bercerita langsung di samping rumah baru Bunda. Asal Bunda tahu dua empat per tujuh nyatanya belum cukup Bun, rinduku tetap tak terbendung. Perasaan ini tersemai dan aku sampaikan bersama doa yang kulantunkan pukul 3 subuh tadi. Aris harap Bunda sering-sering mampir dan menjengukku malam hari di mimpi baik yang Aris tunggu. Selamat tidur Bunda.
Sampai pulang jadi tujuan paling abadi, aku sayang Bunda sebanyak-banyaknya perihal yang tiada lagi bisa dihitung.

