Matematika Berkarya – Netapa dan Bandung
“Netapa dan Bandung”
Apa yang kalian rasakan saat harus menghabiskan masa SMA kalian di rumah sakit? Ini cerita tentang seorang laki-laki kelahiran Bandung yang rela melebur semua mimpinya karena sebuah penyakit. Laki-laki yang harus membagi waktunya sebagai seorang pelajar dan sebagai seorang pasien di waktu yang berdekatan. Penyakit anemia aplastik yang dia derita, membuat dia tidak bisa leluasa bermain seperti teman-teman lainnya. Menjalani kemoterapi dan transfusi darah adalah kegiatan rutin selama 3 bulan belakang ini.
Berbagai kesulitan berhasil dia lalui dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya. Keinginan besar untuk bisa sembuh dan menghabiskan waktu seperti remaja lainnya, masih menjadi lantunan doa yang keluar dari bibir laki-laki itu. Fatih Carleon Netapa, laki-laki terbaik yang selalu mengutamakan orang yang dia sayang di atas kebahagiannya sendiri. Laki-laki yang dipaksa untuk mandiri sejak kecil karena ibu dan ayahnya telah pergi untuk selamanya. Bagaimanakah Netapa menjalani kehidupan sulitnya? Dan, terkabulkah doanya untuk bisa sembuh?
****
Manusia adalah makhluk sosial yang pastinya memiliki sebuah mimpi. Mimpi yang harus didasari rasa ikhlas ketika takdir tidak berpihak. Seperti halnya Netapa yang harus merelakan mimpinya menjadi seorang dokter. Mimpi yang selama ini menjadi acuannya untuk semangat belajar itu hanya bisa dia tulis tanpa bisa direaslisasikan. Penyakit yang semakin lama, semakin membuat Netapa tersadar bahwa dia tidak bisa menggapai mimpinya.
“Nek, Netapa bisa nggak, ya, jadi dokter sebelum waktunya berakhir?” tanya Netapa sembari menatap langit-langit rumah sakit.
“Nenek yakin kamu bisa. Cucu nenek ini kan hebat,” jawab sang nenek dengan senyum yang meyakinkan Netapa. Netapa menatap mata neneknya sendu.
“Netapa takut. Takut membuat nenek kecewa kalau Netapa tidak bisa menggapai mimpi Netapa. Nek, kalau nantinya Netapa gagal, nenek nggak kecewa, kan?”
Netapa menggenggam tangan snag nenek lalu menatap sejenak wajah sang nenek. Nenek Netapa mengelus rambut Netapa.
“Nenek tidak pernah kecewa sama kamu, Neta. Kamu bisa bertahan sampai titik ini saja sudah membuat nenek bangga.”
Netapa memeluk sang nenek erat. Ucapan terima kasih terus dia ungkapkan kepada sang nenek. Wanita yang selalu mendukung setiap langkah Netapa. Netapa menarik napas panjangnya lalu di hembuskan pelan dengan mata yang terpejam.
“Netapa bersyukur bisa jadi cucu nenek. Nek, apa besok adalah pengobatan terakhir yang Netapa lakukan?”
****
Suasana ramai rumah sakit menjadi hal yang sering ditemui oleh Netapa. Pagi ini, dia memiliki jadwal untuk kontrol bulanan sebelum dia melakukan kemoterapi ditemani oleh sang nenek. Pemeriksaan demi pemeriksaan dilalui Netapa dengan perasaan campur aduk. Perubahan yang terjadi pada fisik Netapa terkadang membuat laki-laki itu ingin berhenti dari pengobatannya.
Terlihat sangat jelas bahwa Netapa beberapa kali menghembuskan napasnya berat. Wajahnya menunduk. Kepalanya dipenuhi dengan pikiran tentang kejadian menyenangkan apa yang terjadi di sekolah hari ini. Elusan dari sang nenek membuat Netapa mendongakkan kepalanya dengan tatapan yang terlihat lesu.
“Kenapa nek?” tanya Netapa sembari menatap neneknya dengan senyum yang lebar.
“Kenapa nek?” tanya Netapa sembari menatap neneknya dengan senyum yang lebar.
“Ayo, sekarang giliran kamu,” jawab nenek Netapa.
Netapa mengangguk lalu mengikuti langkah sang nenek setelah dirinya menghembuskan napas berat.
****
Minggu demi minggu berlalu. Pengobatan panjang berhasil Netapa lalui setelah dia dinyatakan drop selepas menjalani kemoterapi. Pagi ini, laki-laki itu kembali disibukkan oleh kegiatan sekolah. Senyum dari bibirnya tidak pernah luntur. Raut wajah bahagia terlihat begitu jelas saat kaki jenjangnya melewati koridor utama. Sapaan dari teman-temannya yang sangat dia rindukan,kini terdengar kembali. Netapa berjalan menghampiri teman dekatnya yang berada tidak jauh dari koridor utama.
“Asya, gue kembali,” teriak Netapa.
Asya membalikkan badannya lalu memeluk Netapa erat.
“Leon, gue udah nunggu lo lama banget. Gue seneng banget lo sekolah lagi,” ucap Kanasya kegirangan.
Netapa tersenyum lalu membalas pelukan Kanasya.
“Gue jauh lebih seneng, Sya. Gimana kondisi podcast selama gue tinggal, Sya?”
Kanasya menepuk kedua pundak Netapa. “Semua aman, tenang aja. Lo fokus ke pengobatan aja dulu, urusan podcast biar gue aja.”
Percakapan itu terus berlanjut. Netapa dan Kanasya melepas rindu setelah 2 minggu lebih mereka tidak bertemu.
****
Mimpi yang selama ini Netapa harapkan hanya bisa diukir melalui buku diary-nya saja. Kesempatan untuk bisa sembuh dan meraih mimpinya menjadi dokter itu kini berakhir. Suara tangisan terdengar di pemakaman Netapa. Suara tangisan itu hadir setelah Netapa dikabarkan menjadi korban KLL di Jalan Buah Batu.
“Padahal kamu janji buat kembali setelah mempersiapkan acara podcast besok, Leon. Kenapa kamu pergi? Acara besok bagaimana? Aku, bagaimana? Aku hanya punya kamu, Leon. Bukankah kamu tau itu?”
Air mata Kanasya sedari tadi mengalir. Dadanya sesak. Matanya memerah. Tubuhnya lemas. Kabar yang mengejutkan hari ini membuat dia lemah. Nenek Netapa menarik tubuh Kanasya ke dalam pelukannya.
“Ikhlaskan cucu saya, Kana. Dia sudah bahagia di sana. Kamu lihat langit itu, sangat cerah, kan? Netapa sedang tersenyum di atas sana. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Kana.”
Helaan napas Kanasya terdengar sangat berat.
“Sulit untuk Kana, Nek. Leon adalah orang yang selalu mendukung Kana. Setelah ini, siapa yang akan mendukung Kana?” Kanasya menundukkan kepalanya.
“Kenapa ya nek, Kana harus selalu kehilangan. Padahal Kana baru bahagia loh, kok sekarang kebahagiaan Kana diambil? Kenapa Tuhan ambil semua kebahagiaan yang Kana miliki,” lirih Kanasya.
“Kamu tau? Setiap manusia akan berakhir dengan yang namanya kematian. Kita memang tidak bisa merasakan kehadiran Netapa di samping kita. Tapi, kita masih bisa merasakan cinta Netapa itu di dalam diri kita, kan?”
Air mata Kanasya tidak bisa berhenti mengalir. Kesadaran Kanasya hilang setelah peti itu tertutupi oleh tanah. Hari ini, sahabatnya pergi. Orang yang selalu mendengarkan segala keluh kesahnya telah bahagia bersama kedua orangtuanya.
****
“Leon, acara podcast kemarin berjalan lancar. Terima kasih, ya, kamu berhasil menjadi ketua yang baik. Hari ini aku mengikhlaskan kamu pergi, Leon. Aku akan terus mendoakan supaya kamu bahagia di sana. Selamat tinggal, ketua terbaik Podcast Nanggala.”
Manusia akan selalu dihadapkan oleh sebuah pertemuan dan perpisahan. Tidak ada yang bisa menghindari dua takdir itu. Aku bertemu dengannya dengan senyum yang teramat lebar, dan kali ini, aku harus melepaskan dia dengan senyumuman, senyum yang mengisyaratkan kesenduan.
TAMAT

