“Cerita yang Tak Pernah Usai” – Fariska Triana Sari
Malam yang senggang itu, aku kembali melamun di depan layar yang menampilkan dokumen kosong dan menanti-nanti jariku untuk mengetik sebarang kalimat random. Otakku berputar, mengira-ngira apa yang pantas kutulis untuk Open Submission yang kuniatkan untuk kuikuti semester ini. Cerpen macam apa yang hendak kupamerkan? Aku tak mengerti mengapa hati dan jiwaku begitu kering akhir-akhir ini. Mengapa tak ada satu pun hal menarik yang terlintas agar bisa kutulis dalam dokumen kosong ini.
Jariku mulai mengetik perlahan. Kuniatkan cerita berjudul “Iri” yang akan berisi tentang rasa iriku kepada dunia, kepada mereka yang begitu terlihat bahagia. Namun, memasuki kata ke seratus, otakku terhenti. Apa yang sebenarnya kutulis saat ini? Iri tak selayaknya kuumbar-umbar seperti ini. Pesimis menggerogoti seluruh niatku, dan begitu saja dokumen itu kusimpan sembarangan, lalu kubuka dokumen baru yang masih bersih.
Otakku kembali berputar. Tanganku mencoba menggapai ponsel untuk menemukan sederet ide yang pernah kutulis selama ini. Sci-fi, romance, thriller, fantasi, begitulah yang kutemui di dalam draft tak terurus itu.
Pada akhirnya, dengan kepercayaan yang terburu-buru, aku mulai mengetik dua buah kalimat yang kurancang untuk cerita romance yang menarik perhatianku. Berlatar waktu di sore hari di kota Malang yang dingin selepas hujan. Kalimat itu mulus menjadi paragraf. Satu. Dua. Tiga. Empat. Sampai enam paragraf, lalu berhenti begitu saja.
Pertanyaan mulai berkecamuk di pikiranku. Apa yang sebenarnya ingin kutulis? Kisah cinta siapa? Kenapa tokoh utamanya jadi seperti bajingan begini? Hell, memangnya aku tahu perasaan jatuh cinta secinta-cintanya itu seperti apa? Dan pada akhirnya, dokumen cerpen bergenre romance itu pun mengalami nasib yang sama dengan dokumen sebelumnya.
Aku menghela napas. Begitu pesimis. Dalam sunyi malam itu, aku bergumam, “Apa aku tak perlu ikut saja?” Pikirku memilih zona nyaman. “Aku pulang untuk liburan.” Satu pikiran lagi membuatku semakin yakin untuk menyerah.
Namun, suatu keajaiban tiba-tiba datang. Seperti mendapat sebuah ilham, pikiranku meluncur ke satu titik yang kuanggap menjadi inti permasalahan yang kualami. Sebuah rasa yang belum terlupakan. Begitulah kiranya, sehingga aku akhirnya mulai memikirkan hal yang sekiranya kurasakan akhir-akhir ini dan masih tertinggal rasanya dalam relung hati. Mataku tiba-tiba saja terarah pada sebuah buku bersampul biru karya penulis Leila yang baru kemarin malam kuselesaikan. Dendam, amarah, kekecewaan, seolah terbesit kembali dalam jiwaku.
Pikiranku semakin jauh melayang kepada kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini membuatku menyebut-nyebut seluruh isi kandang binatang. Dan begitu saja, jemariku kembali mengetik sebuah kata yang berbunyi: “Bajingan.” Begitu sarkas. Tanpa tedeng aling-aling. Karena kemarahan sesaat itu benar-benar membutakan hatiku.
Satu, dua, tiga kalimat akhirnya terbentuk. Membentuk paragraf. Menjadi sebuah cerita… keluhan. Yaah, aku kembali kecewa dengan kata-kataku yang sangat berapi-api menindas “mereka” dalam ceritaku. Aku kembali bertanya-tanya, “Pantaskah aku menulis cerita konyol seperti ini?” Lama-kelamaan, bukankah aku yang akan didepak jika saja peradaban benar akan kembali terulang ke masa-masa Biru Laut yang ada di novel bersampul biru karya penulis Leila itu?
Hah… selalu saja begini. Sepertinya benar, seharusnya aku tak mengikuti kegiatan ini saja. Akan kurancang cerita lain sambil jalan… jalan meninggalkan niat, sepertinya. Lalu akan kukirimkan naskah terbaikku semester depan… yang pastinya akan kubuat mendekati deadline lagi, lalu hal ini akan terulang kembali. Begitu terus sampai laptopku muak dengan pemiliknya.
Tapi entah kenapa, di tengah rasa kesal dan niat untuk menyerah itu, aku justru merasa sedikit lebih ringan. Mungkin nanti ceritaku akan utuh, mungkin juga tidak. Tapi malam ini, setidaknya, ada satu cerita yang berhasil kutulis: cerita tentang cerita yang tak kunjung jadi.

