“Bagaimana dan Mengapa” – Nurul Huda
Harusnya aku menggunakan kelinci percobaan untuk mesin waktu yang belum kuketahui berfungsi atau tidak. Sekarang yang kudapati hanya penyesalan dan erangan tak nyaman karena terjebak di tempat antah berantah dan dikelilingi robot-robot berseliweran di jalan raya.
Robot-robot di sekitarku bergerak teratur tanpa menimbulkan kemacetan maupun tabrakan. Mereka semua memiliki pergerakan yang otomatis mengikuti fungsi yang sudah ditanamkan oleh manusia pembuatnya. Pikiranku bercabang ke mana-mana, antara menyerah dan pasrah tak dapat kembali ke dimensi yang seharusnya, atau mencari bantuan yang tidak jelas berhasilnya.
Jika di tahunku–2126–robot hanya digunakan sebagai pesuruh rumah, maka di tahun ini robot sudah dibolehkan keluar ruangan, yang artinya kecanggihan teknologi tak dapat diragukan. Atas teori itulah, aku yakin ada banyak manusia yang akan menolongku dengan bantuan kecanggihan yang sudah ada. Akhirnya aku memilih opsi kedua; mencari bantuan.
“Permisi, boleh kutahu di mana manusia berada?” tanyaku pada robot lelaki yang baru keluar dari toko kue. Walau masih terasa konyol, aku tetap harus berpikir selogis mungkin untuk saat ini. Robot itu tak merespons, sebagai gantinya ia menarikku ke sebuah gang sempit lalu berbelok ke kiri. Pikiranku masih berlarian tak jelas, tetapi aku berusaha untuk tetap fokus dan mengikuti arah jalan robot itu. ia membawaku ke sebuah pemukiman, sepertinya.
“Masuk,” titahnya dingin dan penuh penekanan agar aku salah satu rumah dengan dinding marmer putih yang begitu mengkilap. Aku duduk di sofa ruang tamu, kemudian berusaha memperkenalkan diri dengan sebaik mungkin. “A-aku Daffor, peneliti yang menemukan teknologi mesin waktu lewat pecahan energi lubang hitam. Harusnya aku ke masa lalu, 2118. Tetapi aku justru terjebak di sini. Tahun berapa sekarang?”
“2134.”
Delapan tahun yang akan datang.
Mungkin robot ini akan menyebutku gila. Namun, aku tidak boleh pesimis atau akan terancam tak dapat pulang.
“Kenapa memilih ke masa lalu?” tanyanya. Aku tidak akan menjelaskan alasan konyol sekelas gila pujian dari pimpinan profesor kepada robot ini, jadi kujawab dengan alasan kedua; ingin mengubah salah satu peristiwa di sana.
Setelah menjelaskan alasan itu, aku kembali bertanya, “Bagaimana? Apa kau bisa
membantu?”
“Akan kubantu jika pertanyaanmu bukan bagaimana, melainkan mengapa.”
“Maksudnya?”
“Kau bisa mengganti bagaimanamu dengan mengapa.”
Walau terkesan ganjal dan gila, aku tetap patuh. Kuganti pertanyaan bagaimana bisa kembali? dengan mengapa aku harus kembali? Pertanyaan itu kujawab sendiri hingga bergidik ngeri. “Karena … bukan seharusnya aku di sini,” jawabku sekenanya.
Robot itu melepas kepalanya, yang baru kusadari hanya sebuah kostum. Ternyata, di balik kostum robot lelaki itu adalah seorang perempuan … yang sangat mirip dengan temanku. “Galasea?” Perempuan itu mengangguk. Bagaimana ia berada di sini dengan fisik yang tidak menua?
“Lebih banyaklah membuat pertanyaan mengapa,” ucapnya membingungkanku.
Sejak berada di dimensi ini, kuakui lebih banyak bertanya bagaimana daripada mengapa. Bagaimana aku bisa pulang? Bagaimana aku bisa di sini, padahal aku sudah mengatur ke masa lalu, bukan masa depan? Ah, oksigen yang jernih tanpa polusi di sini membuat pikiranku kosong.
Sejujurnya, aku tak berada di dunia ini dan hanya ingin kembali ke dimensiku, tak peduli perempuan di depanku benar Galasea atau bukan.
“Apakah kau mengikutiku?” tebakku dengan nada bergetar. Ia mengangguk dan entah mengapa membuatku berang.
Galasea mengeluarkan sebuah buku dari laci meja yang kubaca sekilas berjudul Mesin Waktu dan Pecahan Energi. Ia membuka halaman tengah dan menunjukkannya padaku. Pada paragraf kedua, terdapat bagian yang ditandai garis merah.
Mesin waktu tidak bekerja untuk manusia. Energi mereka difungsikan untuk mengantar manusia ke tempat yang seharusnya, bukan yang diinginkan manusia tersebut.
Lalu paragraf kelima menjelaskan;
Masa lalu yang diubah tidak hanya berdampak pada yang bersangkutan, melainkan juga berdampak pada skenario satu alam semesta.
Aku memijit kepalaku, pening. Orang yang belum kupercaya sepenuhnya adalah Galasea itu berkata, “Dibanding mengubah masa lalu yang belum tentu akan jadi lebih baik, mengapa kau tidak belajar dari kesalahan untuk memperbaiki masa depan?”
Aku tak terpikirkan hal itu. Benar adanya, selain gila pujian, aku juga manusia egois yang ingin masa lalu memalukannya terhapus dari sejarah. Dan, mungkin itu akan mengubah tak hanya kelanjutan hidupku, melainkan skenario satu alam semesta.
“Baca berita ini. Dia adalah kau di masa depan, yang dengan dungunya hanya meratapi kematian Retteis, pacarmu di 2126 sekaligus istrimu di tahun ini.” Galasea menyodorkan koran yang kupikir sudah hilang dilahap zaman.
Aku mengerang, tak percaya bahwa di masa depan akan kehilangan istri di usia muda.
Aku mendesah pasrah, “Lalu aku harus bagaimana?”
“Mengapa.”
Lagi-lagi dibuat bingung.
“Dibanding mengubah masa lalu yang belum tentu akan jadi lebih baik, mengapa kau tidak belajar dari kesalahan untuk memperbaiki masa depan?” Ia bertanya sekali lagi. Kuakui, ia satu tingkat lebih cerdas dariku sehingga aku tak pernah berpikir seperti apa yang diucapkannya.
“Aku, tak tahu. Kupikir, aku belum tentu hidup hingga tahun depan. Jadi, buat apa memperbaiki masa yang belum tentu kualami?” tanyaku. Galasea tersenyum.
“Tuhan memang punya ketetapan, tetapi manusia punya rencana. Dan Tuhan tak pernah
melarangmu memiliki rencana.”
Aku terdiam. Galasea benar. Mungkin, aku dibawa ke sini agar sadar, bahwa aku perlu
merencanakan masa depan. Tak peduli seberapa jauh Tuhan memberi ketetapan, tetapi aku
berhak berencana. Setelah kehilangan Retteis nanti, di masa depan aku tak memiliki rencana,
dan itu buruk.
Setelah sadar ada yang salah dengan hidupku di 2126, tubuhku dan Galasea perlahan menjadi transparan, membawaku kembali ke dimensi yang benar—untuk memperbaiki masa depanku kelak.

