Himatika Vektor UM Shafa Fadlillah

“Gelisah dalam Laci” – Shafa Fadlillah

Aku hanyalah laci tua, tubuhku kayu, usiaku sudah lebih lama dari pemilikku sekarang. Catku sudah mengelupas, engselku berderit setiap kali ditarik atau didorong. Orang mungkin melihatku hanya sebagai ruang penyimpan barang. Tapi sesungguhnya, aku lebih dari itu. Aku adalah penjaga rahasia, pemikul gelisah.

Sejak Lira kecil, aku telah menjadi saksi bisu. Awalnya aku menyimpan pensil warna dan kertas gambar penuh coretan ceria. Lalu, seiring waktu, isiku berubah. Kertas ujian dengan angka merah, surat yang diremas lalu diselipkan diam-diam, hingga hadiah kecil yang tak pernah ia berikan pada seseorang. Aku tahu, isi tubuhku selalu mencerminkan isi hatinya.

Aku bisa merasakan setiap kali ia membuka dan menutupku. Ada malam-malam saat tangannya bergetar, seakan takut menyentuh apa yang disembunyikan. Ada pula pagi-pagi ketika ia menutupku keras-keras, seolah ingin mengurung semua kesedihan di dalamku agar tak bocor ke dunia luar. Tapi aku tahu—aku selalu tahu—kesedihan itu tak pernah benar-benar terkunci. Ia merembes lewat celah-celah kayuku, membuatku berat dan sesak.

Yang paling sering ia sembunyikan adalah buku harian itu. Sampulnya nila pudar, halamannya penuh tulisan tergesa. Beberapa tinta sudah luntur, bercampur dengan noda air mata. Aku hafal bunyi isakannya, meski ia mencoba menahan suara. Kata-kata yang ia tulis sering terasa seperti duri, menusuk ke dalam tubuhku sendiri. Aku menjerit dalam diam, ingin sekali mengembalikan beban itu kepadanya.

Aku bukan penjara, aku tak diciptakan untuk menahan rasa sakit. Aku hanya laci—ruang kosong yang seharusnya menampung benda, bukan jiwa yang terluka. Tapi malam demi malam, aku dipaksa menjadi wadah gelisah.

Hingga suatu malam hujan turun deras. Angin menerobos lewat celah jendela, membuatku berderit dan terbuka sedikit. Aku tak tahu, apakah itu kebetulan atau memang semesta ikut campur. Tapi aku lega, akhirnya aku bisa bernapas. Kertas-kertas di dalamku bergetar, seperti berusaha melarikan diri.

Lira mendekat dengan wajah pucat. Ia menatapku lama, lalu perlahan menarik buku harian itu keluar. Aku mendengar degup jantungnya, cepat dan berat. Saat ia membuka halaman pertama, air matanya jatuh. Ia membaca, membaca lagi, hingga tubuhnya terguncang. Aku bisa merasakan sesuatu berubah. Bukan hanya padanya, tapi juga padaku. Beban yang lama mengendap di dalam tubuhku seperti keluar bersama isaknya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa ringan. Tidak lagi sesak. Aku bukan lagi wadah dari segala yang tak terucapkan. Aku hanya saksi—saksi dari keberanian seseorang menghadapi dirinya sendiri.
Kini aku masih di sini, laci tua yang berderit jika dibuka. Masih menyimpan kertas, surat, dan rahasia kecil. Tapi aku tak lagi menjadi penjara bagi gelisah. Aku hanya ruang singgah. Tempat sementara, sebelum hati pemilikku benar-benar siap menghadapi dirinya.

Dan itulah kebahagiaanku, meski hanya benda mati, aku tahu aku pernah ikut menyelamatkan satu jiwa dari dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top