Matematika Berkarya – Angan Kematian
Angan Kematian
Karya: Sar.
Mati, mati, dan mati.
Satu kata yang terus terputar di kepala ketika lelah tak kunjung usai. Kalau aku mati, bagaimana?
Kalau kamu mati, tidak ada yang peduli. Dua tiga bulan kemudian akan sepenuhnya terlupakan. Benar. Miris juga.
Rupanya, lebih baik hidup terpuruk, ya? Sakit sendiri, lelah sendiri. Hanya ada aku yang selalu ingat diri sendiri. Ternyata aku keren juga, ya? Jatuh, luruh, dan runtuh, tapi sampai hari ini masih tetap utuh.
Hebat dan luar biasanya aku ini, bukannya pantas dapat suatu penghargaan? Benar, ‘kan?
Jadi, kalau aku ucap angan kematian, apa diperkenankan?
.
.
Oh, tidak jadi. Akan aku tunda angan kematian ini.
Sedikit lagi, bersabar sedikit lagi.
Ternyata ada jiwa yang menanti.
Sebentar lagi, bertahan sebentar lagi.
Kali ini, sepertinya harus berjuang sampai mati.
-Kamu berjuang mati-matian bukan untuk nyerah di tengah jalan. Buat sekarang, menyerah sama sekali bukan pilihan, ‘kan?

