Matematika Berkarya – Netra
Netra
Oleh: Sar
S1 Pendidikan Matematika/2019
Langit Renjana punya rasa penasaran besar ketika melihat seorang dara jelita duduk di halte bus trans jogja setiap sorenya. Puan berseragam sekolah yang punya tatapan kelabu, tapi wajahnya dipahat dengan sempurna oleh Sang Pencipta. Sang Puan rutin duduk di tempat yang sama setiap harinya. Ketika duduk di bus, pandangannya selalu lurus ke depan.
Langit Renjana selalu duduk di hadapannya dan membalas tatapan sang puan, tapi tak pernah ada sapaan di antara mereka. Sang Puan tak pernah beri bangku pada penumpang lain. Biar seorang wanita tua berdiri di hadapannya, puan itu tetap duduk di tempat yang sama
Di lain waktu, Sang puan baca buku tebal bersampul biru dengan gambar burung camar. Langit Renjana selalu memperhatikan dan tak pernah melihat puan membalikkan halaman buku. Langit penasaran dengan puan bermata sayu yang selalu duduk di hadapannya. Langit juga penasaran pada perasaan asing yang hadir pada setiap detik ia menatap sang puan jelita.
Dara jelita cantik sejagad raya. Pusat dunia Langit Renjana. Namanya seindah apa? Suaranya semerdu apa?
Langit penasaran hingga berhari-hari larut dalam tanya yang tak ada jawabnya. Langit mencari tahu asal sekolah puan sekaligus mencari buku yang biasa ia baca. Langit punya rasa penasaran yang besar, cerita apa yang membuat puan beri atensi khusus sampai tak perhatikan sekitar.
Pada hari kesembilan di bulan Juni, Langit beranikan diri untuk duduk di samping puan jelita. Hari ini puan hadir kembali dengan buku biru dan tatapan sayu.
“Bukunya bagus, ya? Saya juga baca itu.”
Atensi puan teralihkan. Aroma mawar menguar dari surai gelap puan yang indah. Tatapannya indah walau kosong tanpa cahaya. Jantung Langit langsung meriah ketika puan lempar senyum tipis padanya.
“Sudah selesai baca?” Suara puan semanis madu dan lembut mengalun masuk ke telinga Langit.
“Sudah. Saya suka tokoh utamanya. Kuat dan tangguh sekali. Dia kehilangan banyak hal di situ.” Langit gugup tapi tetap memaksa bicara.
“Oh, begitu?” Puan tidak melanjutkan kalimatnya. Bus berhenti sampai di pemberhentiannya. Puan berdiri dan hendak lenyap dari selayang pandang.
Langit buru-buru berdiri di ambang pintu. “Saya Langit! Langit Renjana!”
Suara Langit lantang menarik atensi orang sekitar. Ia malu. Wajahnya merah padam. Puan sempat berbalik sebelum pintu bus tertutup. Senyum manis merekah dan Langit dapat mendengar suaranya berteriak membalas sapaan. “Sampai jumpa, Ren!”
Hari berikutnya mereka bertemu lagi. Puan duduk di halte menunggu bus tiba, sedang Langit duduk di samping dara jelita dalam diam. Puan tak menyapa dan masih fokus pada bacaan di hadapannya.
Langit berdehem, “Anu—”
Rupa-rupanya sang puan terkejut sampai menjatuhkan buku birunya. Puan menoleh dengan gugup. “Oh, siapa?”
Langit bingung, tapi ia mengambil buku sang puan dengan cepat. “Ah, saya yang kemarin, Langit Renjana.” Ketika Langit mengembalikan buku pada puan, barang itu kembali jatuh. Tangan sang puan berselisih dengan barangnya. Langit kembali mengambilkan. “Oh, maaf.”
Kali ini puan tak mengulurkan tangan. Ia membiarkan buku menggantung di tangan Langit. Bus tak kunjung tiba. Keduanya diam pada hening yang menjeda.
“Ren, bukunya buat kamu saja.” Puan melempar senyum. “Saya sudah baca. Sampai selesai.”
Langit bingung. “Tapi saya nggak pernah lihat kamu sampai di halaman terakhir.”
Puan menatap entah kemana. “Ren, bukunya tadi jatuh.”
“Iya, ini saya ambilkan.”
“Ren, mata saya sudah lupa jarak.”
Jantung Langit berdetak lebih cepat.
“Hari ini mata saya sudah lupa dengan jarak. Besok, mungkin mata saya lupa pada cahaya. Atau mungkin nanti, entah kapan, mata saya lupa seperti apa rupa manusia.” Puan berceloteh, sedangkan Langit masih bungkam.
“Saya panggil kamu ‘Renjana’, bukan ‘Langit’, karena mata saya sudah lupa seperti apa cara langit memamerkan diri. Ren, bukunya buat kamu saja.”
Ah, rasa penasaran Langit terurai pada detik itu juga. Kini ia paham alasan tatapan kosong pada wajah rupawan sang puan. Kini ia paham mengapa sang puan tak pernah membalikkan halaman buku biru.
Kini Langit sadar netra sang puan penuh dengan rasa kelabu.
“Puan, panggil saya Renjana saja, tidak apa. Kalau tidak sebagai langit yang memberimu keteduhan, jadikan saya sebagai harapan. Tidak apa lupa pada jarak dan cahaya di depan mata, tapi puan bisa terus ingat pada suara merdu di sekitar.” Suara langit bergetar.
“Walau lupa pada cahaya, setidaknya puan ingat pada hangatnya mentari. Walau lupa pada birunya langit, setidaknya puan ingat pada sejuknya udara mengalir.” Langit kembalikan buku pada tangan puan. “Bukunya saya kembalikan, biar puan ingat seperti apa rasa sentuhannya ketika membaca buku ini dulu.”
Puan itu menangis. Air mata luruh dari netra kelabu yang tatapannya sendu penuh resah. “Ren, Renjana,” puan memanggil memelas. “Tetap di sini. Jadi harapan saya. Ren, saya tidak mau lupa perasaan hari ini. Renjana, tolong tetap di sini…”
“Sini, saya di sini.” Langit Renjana menggenggam erat kedua tangan sang puan. “Selalu di sini. Entah sebagai mata atau harapan milik Puan. Saya akan selalu di sini.”
Bus mereka tidak kunjung hadir.
“Saya nggak akan kemana-mana. Sebab dari hari pertama kita bertemu, saya sudah jatuh pada tatapan matamu yang menghujam jantung. Saya terjebak di antara kedua matamu.”
—end.

