Matematika Berkarya – Tentang Rumah di Pinggir Kota, Katanya Itu Untuk Aku.
Tentang Rumah di Pinggir Kota, Katanya Itu Untuk Aku.
Oleh: Sar
S1 Pendidikan Matematika/2019
Aku sering menyelinap keluar rumah dengan alasan ‘tugas sekolah’ agar dapat lepas dari pengapnya suasana rumah. Nyatanya aku lari dan mencari tempat untuk melenyapkan resah. Biasanya aku akan mengendarai motor dan mengelilingi kota kecil sampai matahari tenggelam. Biasanya aku akan menjelajah sudut-sudut kota yang tak terjamah sambil membawa makanan kecil.
Biasanya aku berkelana sendiri, tapi kali ini ada Ren yang menemani. Ren tidak punya keluarga di kota ini, ia hidup sendiri di pinggiran kota bersama dengan pemandangan laut yang luas tanpa batas.
Sore itu, Ren membawaku duduk di tanjung dekat rumahnya, “Coba lihat, langitnya jadi merah.”
Aku hanya mampu mengangguk.
“Sebelumnya langitnya biru.”
“Hm,” balasku seadanya.
“Sekarang merah.”
“Iya.”
“Setelah itu merahnya hilang, jadi gelap.”
“Iya, Ren.”
“Besoknya jadi biru lagi.”
“Iya.”
“Berarti kamu juga, sekarang sedih, besok bisa ceria lagi. Terus bisa jadi sedih lagi, tapi pasti bisa ceria lagi. Atau bisa marah juga, atau kecewa, terus bisa ceria lagi.” Ren mengulang kata ‘ceria’ beberapa kali.
Aku menoleh dan menemukan kedua matanya yang lebih memilih untuk menatapku ketimbang matahari yang hampir tenggelam. “Gimana maksudnya?”
“Nggak apa-apa kesal, kecewa, sedih, atau marah. Masa remaja memang isinya banyak waktu suram. Dinikmati saja sambil yakin bisa melewati semuanya. Nanti kalau sudah berhasil lewati tantangan, pasti rasanya lega sekali. Terus bisa istirahat sebentar buat lanjut ke babak berikutnya.” Rambut Ren ditiup angin laut, membuatku sulit menatap kedua matanya.
“Kalau ada resah, dibagi. Mungkin aku nggak bisa bantu uraikan resah, tapi seenggaknya bisa bikin kamu nggak ngerasa sendiri.”
Ren menunjuk rumahnya sendiri. Rumah yang diberikan kedua orang tuanya untuk dapat bertahan di kota kecil ini. Ren mencintai rumah kecil di pinggiran kota, karena dengan begitu ia bisa merasa lebih dekat dengan laut kesukaannya.
“Rumah itu, buat kamu, deh.”
Aku menaikkan sebelah alis. “Kok buat aku?”
Ren mengangguk. “Kamu sedih karena ngerasa nggak punya ‘rumah’, kan? Rumah kamu udaranya bikin sesak, ya? Bikin nggak betah, makanya kamu sering pasang muka suram di sekolah. Lebih suram lagi kalau bel pulang sekolah udah bunyi. Waktu malam datang, bukannya pulang, malah keliling kota sendirian. Pulangnya larut sambil bawa resah di pundak. Waktu hari sudah ganti, susahnya tetap ada di sana. Yaudah, itu rumah buat kamu biar nggak sedih lagi.”
Aku tertawa. Keras. Sampai-sampai atensi orang sekitar jatuh kepada kami berdua.
“Kalau rumahnya buat aku, kamu tinggal di mana?” tanyaku ketika tawa terhenti.
Ren diam sebentar. “Memang kalau rumahnya buat kamu, aku nggak bisa tinggal sama kamu?”
Wajahku dapat dipastikan merah padam. Sedangkan Ren hanya tertawa kecil.
“Nanti, rumahnya buat kamu, bonusnya ada aku di dalamnya. Nanti setiap hari ada yang nungguin kamu pulang buat berbagi cerita dunia. Nanti setiap malam ada yang ngingetin kamu buat pakai selimut biar lebih hangat. Nanti, setiap pagi, ada yang buatin kamu susu hangat buat sarapan. Tapi nanti. Nggak tahu kapan. Saling usaha, ya?”
Aku tidak menoleh sedikitpun. “Ren, aku berantakan luar dalam. Rumahmu jadi suram kalau ada aku.”
Ren menggeleng. “Ah, nggak, rumahku malah senang karena ada puan cantik kayak kamu. Udah cantik, kuat juga sama kehidupan. Wah, dia pasti bangga kamu jadi pemiliknya!”
Aku tertawa.
“Sambil nunggu, ayo bertahan. Aku, kamu, bertahan sampai akhir. Sampai bisa ketemu di rumah kecil punyaku. Mau, ya?” Ren meminta. Langit makin gelap, resah makin lenyap. Aku mengangguk.
“Iya, bertahan sama-sama, ya? Sampai akhir? Kamu mau temani?” pertanyaanku dibalas oleh suara tawa miliknya.
“Rumah aja rela aku kasih buat kamu, apalagi permintaan kayak gitu.”
Aku ikut tertawa.
Sambil saling menggenggam harap, kini resah sudah benar-benar lenyap.
“Ren, terima kasih, ya?” bisikku menutup sore.
—end.

