Matematika Berkarya – Musim Dingin
“Musim Dingin”
My biggest mistakes wasn’t falling for you, it was thinking that maybe you fell for me too…
~unfinished business – Neriah
Aku adalah penggemar winter, keindahaan musimnya membuatku merasa nyaman dan tenang. Dinginnya musim winter meningkatkan semua indra, membuat burung indah bersuara seakan memuji kecantikan musimnya. Namun, kagumku terhadapnya hanya pujian belaka. Aku tidak bisa menggapainya, intro dari lagu sempurna mungkin kalah indahnya sehingga gapaiku tidak sampai padanya. Untuk menyentuh putihnya yang lembut saja aku tidak bisa.
Lagu The Fear Of Losing This berputar dan aku melanjutkannya…
Pada suatu hari aku menatap ke luar jendela, membiarkan dingin yang samar terasa di kulitku. “Kamu mungkin tidak pernah tahu betapa aku mengagumimu,” bisikku pelan, suaraku hilang di tengah keheningan. Tapi tidak apa. Beberapa keindahan memang diciptakan untuk hanya dilihat, bukan dimiliki.
Datang hari ketika aku melihat sesorang mirip sekali dengan musim yang selalu kukagumi selama ini. Sama kah dia seperti winter yang ku bicarakan? Atau kali ini aku bisa menggapainya?
Aku terdiam, mengamati sosok itu dari kejauhan. Wajahnya tenang seperti pagi yang diselimuti salju, dengan tatapan yang mampu membekukan waktu. Dia berdiri di sana, seakan membawa seluruh musim winter bersamanya—dingin, namun tidak mengusir. Justru menarikku semakin mendekat. Apakah ini hanya imajinasiku, atau dia benar-benar ada?
Langkahku maju perlahan, menepis keraguan yang selama ini menghantuiku. Jika ini adalah kesempatan untuk menggapainya, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku ingin tahu, apakah keindahannya juga menyimpan kehangatan yang selama ini kucari?
“Winter…” gumamku hampir tak terdengar. Suaraku bergetar, namun tidak cukup untuk memecah keheningan yang melingkupi kami.
Dia menoleh, dan untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan sepasang mata yang terasa begitu akrab namun asing pada saat bersamaan. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tak bisa kujelaskan—seolah-olah ia tahu betapa sering aku memikirkannya, betapa lama aku berdiri di balik jendela itu, mengaguminya tanpa berani melangkah.
“Apakah aku mengenalmu?” tanyanya, suaranya selembut angin musim dingin.
Aku tersenyum kecil, meskipun hatiku berdebar hebat. “Mungkin tidak,” jawabku jujur. “Tapi aku merasa sudah mengenalmu sepanjang hidupku.”
Dia tertawa pelan, suara itu seperti denting lembut lonceng yang terdengar dari kejauhan. “Kamu aneh,” katanya, tapi ada kehangatan dalam caranya mengucapkan kata itu.
Aku tidak tahu bagaimana, tapi percakapan kami terus mengalir. Apa yang awalnya terasa mustahil tiba-tiba menjadi nyata. Setiap kata yang dia ucapkan seperti salju pertama yang jatuh murni, tanpa beban. Semakin lama kami berbicara, semakin aku yakin bahwa dia adalah musim winter yangselama ini kukagumi. Dia adalah semua yang pernah kuimpikan, namun lebih nyata dari apa pun yang pernah kubayangkan.
Hari demi hari berlalu, dan dia tidak lagi menjadi sosok yang hanya kulihat dari kejauhan. Dia menjadi bagian dari hidupku, seperti musim yang tidak pernah benar-benar pergi. Aku tidak lagi hanya mengaguminya; aku bisa menyentuhnya, merasakan kehangatannya di tengah dingin.
Kini, ketika aku menatap ke luar jendela, bukan hanya musim winter yang kulihat. Tapi juga dia, berdiri di sisiku, memandang dunia yang dulu terasa begitu jauh. Aku tidak hanya menjadi pengagumnya; aku menjadi bagian dari ceritanya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu bahwa musim dingin tidak lagi hanya untuk dilihat. Dia adalah milikku.
Tapi semua hal di atas hanyalah cerita yang kukarang belaka, semoga atau tidak disemogakan oleh musim itu untuk benar-benar terjadi. Harapku musim itu tetap hidup dengan caranya yang membuat semakin indah dan Bahagia.

