Matematika Berkarya – Dia dan Waktu
“Dia dan Waktu”
13 November 1981, Seorang bayi gadis kecil yang bernama Helia Alpin Windsor dilahirkan. Helia tumbuh besar dengan ayahnya yang bernama Piotr Windsor dan ibunya yang bernama Jeana Alpin. Semasa kecil, Helia dikenal sebagai anak yang pandai dan gembira. Dia selalu tertarik dengan hal-hal yang baru, dia memiliki sifat yang tidak pernah menyerah dalam menghadapi masalah sesulit apa pun. Setiap dia gagal, dia akan terus mencoba lagi sampai dia berhasil.
Pada umur 13 tahun, dia duduk di bangku sekolah Maple Ridge Junior High School dan ia mendapatkan juara pertama di bidang studi matematika. Setiap hari dia selalu belajar dengan giat untuk menggapai cita-citanya sebagai ilmuwan yang hebat dan terkenal. Karena prestasinya, pada umur 16 tahun ia mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan selanjutnya di sebuah pulau kecil yang indah bernama Sand Island.
Tidak berpikir panjang, Helia langsung mengambil beasiswa tersebut dan pergi ke Sand Island meninggalkan keluarga tercintanya. Sand Island memang terkenal dengan pendidikannya yang lebih maju dibandingkan dengan negara lainnya. Oleh karena itu, Helia penuh semangat menempuh pendidikannya disana untuk menggapai cita citanya sebagai ilmuwan terkenal.
Satu tahun telah berlalu, Helia yang sekarang telah tumbuh dewasa dan menyukai teman sekelasnya yang bernama Morgan. Morgan merupakan lelaki tampan dan pandai, meskipun ia tahu bahwa Morgan sudah memiliki pasangan kakak tingkatnya yang bernama Mayla. Guna untuk menyibukkan dirinya dan melupakan perasaannya dengan Morgan, Helia melakukan eksperimen-eksperimen aneh untuk dapat menggapai cita citanya sebagai ilmuwan yang hebat.
Pada suatu ketika, Helia meminta bantuan kepada Morgan dan Mayla untuk membantunya membuat penemuan yang baru. “Morgan, kita kan sudah lama kenal ini, dan kamu juga King Of Experiment. Jadi kita bikin penemuan baru yuk.” Ucap Helia. “Oke, tapi aku ngajak Mayla nggak papa kan?” Tanya Morgan. “Gapapa kok. Besok ya, di laboratorium sekolah.” Lanjut Helia.
Keesokan harinya, Helia dan kedua temannya berada di laboratorium sekolah dan bersiap melakukan eksperimentasi. Tapi, siapa sangka eksperimen yang awalnya menyenangkan berujung malapetaka bagi seluruh penduduk di Sand Island. Kejadian pada tahun 1998 yang mengakibatkan pulau Sand Island tidak berpenghuni. Atas kejadian tersebut, berbagai negara menjuluki Sand Island sebagai Teluk yang menangis.
Lima belas tahun setelah kejadian tersebut, ada seorang jurnalis muda yang tertarik dengan Sand Island setelah membaca sebuah majalah lama. “20 December 1998, A tragedy that killed the entire population of Sand Island.All residents on Sand Island died horribly.” Salah satu cuplikan berita di majalah lama. Karena tertarik tentang Sand Island, jurnalis muda tersebut kemudian memutuskan datang ke Sand Island untuk melihat kondisi terkini dari pulau tersebut setelah lima belas tahun tak berpenghuni. Sebut saja Calvin Richards namanya. Dia adalah pria berumur 23 tahun yang tertarik dengan sejarah dari Sand Island.
Dia bersama kedua rekan kerjanya datang mengunjungi Sand Island, sebut saja Merlyn dan Margareth namanya. Perjalanan telah dimulai, tidak membutuhkan waktu yang banyak untuk pergi ke sana dari tempat tinggalnya, pada saat sampai di Sand Island, Calvin dan kedua rekan kerjanya terkejut dengan keadaan yang dia lihat.
Jasad yang seharusnya sudah hilang setelah lima belas tahun dibiarkan, tapi nyatanya tidak. Jasadnya masih utuh seperti lima belas tahun yang lalu. Entah apa yang membuatnya masih utuh.
Perlahan lahan Merlyn mendekati salah satu jasad yang ada di sana, “Ahhhggg….” teriak Merlyn saat melihat jasad yang penuh dengan belatung dan kulit yang terkelupas dari tubuh. Jasad itu mengingatkan Merlyn tentang temannya pada kejadian lima belas tahun yang lalu, Merlyn tidak kuat dengan apa yang dia lihat dan akhirnya pun pingsan saat itu juga.
“Merlyn, Merlyn are you okay?” Tanya Margareth sembari panik dengan apa yang dia lihat. “Calvin, Calvin.. Merlyn pingsan” Teriak Margareth. Calvin pun berlari menghampiri Margareth dan memindahkan Merlyn ke tempat yang lebih aman. “Sepertinya ini tempat aman, mari kita bangun tenda disini” Ucap Calvin sambil menggendong Merlyn yang sedang pingsan.
Calvin pun mulai mendirikan sebuah tenda dan Margareth yang mencoba untuk membangunkan Merlyn. Tiba-tiba, “Heliiaa….” Teriak Merlyn yang baru sadar dari pingsannya. Calvin dan Margareth pun terkejut kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Merlyn. “Siapa itu Helia, Merlyn?” tanya Margareth. Merlyn tidak menjawab pertanyaan tersebut dan langsung meminta untuk masuk ke dalam tenda karena hari sudah mulai malam.
Hari sudah semakin malam, semua orang telah tertidur dengan pulas. Tiba-tiba Calvin terbangun dan sayup-sayup terdengar suara-suara aneh diikuti dengan suara lonceng yang berirama. “Suara aneh apa itu, apa mungkin ada orang lain selain kita di sini.” Ucap Calvin dalam hati. Waktu menunjukkan pukul 24.00
Calvin yang penasaran mulai mencoba memberanikan diri untuk melihat keluar apa yang sedang terjadi. Saat melihat keluar tenda, Calvin terkejut dan tak berkutik dengan apa yang dia lihatnya. Semua jasad berdiri mengelilingi tenda mereka sembari membunyikan lonceng. “Ting … Ting …” Suara lonceng dibunyikan beraturan.
Tak lama kemudian Calvin langsung bergegas menutup pintu tendanya dan kembali tidur, meskipun dia tidak bisa tidur karena hal yang dialaminya. Pada akhirnya dia tertidur dan beberapa jam kemudian matahari muncul dari ufuk timur, Calvin kemudian terbangun oleh suara Merlyn dan Margareth yang sedang bergurau. Anehnya, tidak ada suara hewan sama sekali dipulau tersebut. Meski kejadian yang dialami oleh Calvin semalam, Calvin tetap melanjutkan petualangannya menyisir Sand Island untuk menguak sejarah yang belum pernah ia ketahui. Lama kelamaan, kulit mereka mulai melepuh. Calvin dan rekan kerjanya panik dan tidak ingin dia meninggal seperti penduduk di Sand Island, bergegas untuk segera meninggalkan Sand Island.
Sesampainya kembali ke negaranya, Mereka bertiga menjalani perawatan selama satu bulan penuh, tapi keadaan mereka semakin memburuk dan mereka pun meninggal dunia satu persatu seperti apa penduduk di Sand Island alami. Entah
misteri apa yang menyelimuti Sand Island, tidak ada yang tahu pasti tentang apa yang terjadi di sana dan mengapa jasad-jasad penduduk di sana dapat bangun dengan sendirinya.
“A mysterious incident was experienced by our three journalists. They experience a strange disease, the disease is the same as experienced by residents on Sand Island. They caught the disease while exploring the current state of Sand Island. We have done intensive care when they come back here. But they passed away like the population on Sand Island Fifteen years ago.” Suara berita di televisi saat itu.
Mungkin seseorang akan membuat sejarah baru tentang apa yang terjadi di Sand Island seiring berjalannya waktu. Dia adalah siapa yang tahu pasti tentang kejadian di waktu itu.


Pingin tahu endingnya?!
✨✨✨✨✨
Ada hubungannya dengan cerita sebelumnya? Iya!!
Yok bisa yok!!!
YOK BISA!! KAK REWARD KAK!! wkwkwk
tau ga sih, ini tuh ada lanjutannya sebenarnya..
nah, lanjutannya ini masih ditulis, biar makin terplot twist plot twist pas kalian baca..
heheheh, sengaja di cerita ini endingnya ku bikin gantung, biar kalian penasaran siapa juru kunci yang ada di dalam cerita ini.
SPOILER GA ENDINGNYA!! NGGANTUNG PLISS..
wkwkwkwk, si dia tuh sebenarnya ada didalem cerita ini loh! cuma nih, kalau langsung aku kasih tau di ending kan ga keren jadinya..
Makanya aku buat seolah-olah si dia ini orang lain, padahal engga..
heh knp kaliii. ayok bisa!
AYO BISA!! ✨
kak? kwrennn bgt??!!
gasabar nungguin lanjutannya☝️
Kak? ga kepo sama lanjutan ceritanya kak?
Wih!! Tungguin yakk!! 🤩
Yok lolos yook🔥🔥
kak? … nya kak🙏🏻
Yok bisa.. bikin cerita juga sih kataku mah..
Ndang dek lanjutno ditt, ngegantung tenan, penasaran poll…
hehehe, sengaja.. part 3 e ga kalah seru kok!
Ditunggu traktirannya kak kalau menang.
adit kebiasaan sukanya nggantungin orang🥲