Himatika Vektor UM 20

Matematika Berkarya – Teluk Yang Menangis

“Teluk Yang Menangis”

Sand Island, 1998 tragedi yang tidak pernah terlupakan. Tragedi yang menewaskan seluruh penduduk di Sand Island, atas tragedi tersebut, seluruh negara menjuluki Sand Island sebagai Teluk yang menangis.

Sand Island, 20 Desember 1998.

Helia, sebut saja namanya. Dia adalah seorang gadis cantik berusia 17 tahun yang duduk di bangku sekolah Ridgeview Senior High School. Dia adalah gadis yang pantang menyerah dan suka melakukan eksperimentasi. Meskipun eksperimen yang dia lakukan tidak pernah berhasil, tetapi dia terus mencoba lagi dan lagi.

Pada suatu ketika, Helia sedang melakukan sebuah eksperimen dibantu oleh kedua temannya yang bernama Morgan dan Mayla. Morgan merupakan teman sekelasnya yang sama seperti Helia, dia adalah lelaki yang pantang menyerah dan suka dengan bereksperimen. Morgan juga orang yang cukup pandai di bidang Kimia.

Eksperimen yang dilakukan oleh Morgan mayoritas berhasil dan
menghasilkan sebuah maha karya yang hebat. Morgan dijuluki sebagai King Of Experiment di sekolahnya. Sekolahnya dapat maju berkat prestasi yang diraih. Morgan sempat menjalin hubungan dengan Mayla, kakak tingkat di sekolahnya. Dia terkenal dengan kepandaiannya dalam bidang Biologi. Mayla merupakan orang yang sangat ambisius dalam bidang pendidikan. Dia selalu mendapatkan ranking satu di sekolahnya. Mayla sama sekali belum pernah melakukan eksperimentasi, jadi ini merupakan eksperimen pertama dia.

“Ini merupakan eksperimen pertama aku, pasti akan menjadi maha karya yang menakjubkan jika ini berhasil.” Ucap Mayla kepada teman temannya. “Ya! Kita pasti berhasil dalam eksperimen ini.” Sambung Morgan sambil tersenyum menatap mata Mayla.

“Udah, jangan ngobrol terus. Ayo bantu aku untuk menata alat eksperimen ini.” Cetus Helia dengan raut muka yang tidak mengenakan. Suasana seketika menjadi hening, Morgan dan Mayla tanpa banyak bicara langsung membantu Helia menyiapkan alat untuk eksperimen di laboratorium sekolahnya.

Setelah menyiapkan alat dan bahan, Helia dan kedua temannya langsung memulai eksperimen. Helia dan kedua temannya langsung memasukan bahan bahan. “Ini adalah bahan yang terakhir, mari kita masukan dan semoga berhasil.” Ucap Helia.

Tiba-tiba, terdengar suara “bufft….” dan muncul asap berwarna hitam secara cepat diikuti dengan aroma yang tidak enak. Awalnya mereka mengira bahwa hal tersebut adalah salah satu tanda eksperimen mereka berhasil, tapi tidak dengan Morgan, Morgan sadar bahwa eksperimen mereka telah gagal, ia langsung berlari keluar laboratorium dan tidak menghiraukan kedua temannya.

Tak lama kemudian Helia dan Mayla sadar bahwa eksperimen mereka telah gagal dan Morgan telah meninggalkan mereka. Mereka panik mencari jalan keluar, tapi keadaanya sudah sangat mencekam, semuanya gelap tertutup asap hitam yang sangat pekat tak ada satupun cahaya yang masuk bagaikan siang tanpa matahari.

Bau yang menyengat semakin menjadi jadi, mereka mulai kehilangan kesadaran dan sesak nafas yang sangat menyakitkan. Pandangan mereka berkunang kunang, tapi mereka pantang menyerah. Mereka terus mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri. Setelah sekian lama mencari cari jalan keluar, mereka akhirnya menemukan jalan keluar dan dapat keluar dengan selamat. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Bukannya mendapatkan penghargaan mereka malah mendapatkan malapetaka.

Tanpa mereka sadari, asap hitam juga ikut keluar dari area sekolah dan mulai menyebar terbawa angin. Lama kelamaan, asap hitam mulai menyebar ke seluruh penjuru Sand Island. Seluruh tubuh Helia dan Mayla yang awalnya baik-baik saja, mulai kemerahan dan pandangan mereka menjadi kabur. Tubuh Helia dan Mayla terlihat seperti mayat yang hidup, tapi tidak pada Morgan, Morgan yang berhasil selamat terlebih dulu, hanya mengalami luka bakar kecil di beberapa area kulitnya.

Asap hitam mulai menutupi Sand Island, tidak hanya mereka bertiga yang mendapatkan malapetaka, tetapi seluruh penduduk di Sand Island juga mendapatkan dampak yang sama. Teriakan dan tangisan dimana-mana, seperti pulau tersebut sudah dipenuhi dengan mayat yang hidup. Kejadian ini menjadikan topik pembicaraan dunia saat itu. Semua negara panik, takut akan mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh penduduk di Sand Island.

Sand Island, a small and beautiful island, is experiencing strange events. Black smoke covered the island and all the residents there suffered from a disease that we never knew about. The disease attacked everyone there and caused the skin to turn red like burns and a very painful pain. Screams and cries are everywhere.” Berita di salah satu negara.

Dua Minggu telah berlalu, asap hitam mulai menghilang. Tapi tidak pada dampak yang dialami oleh penduduk di Sand Island. Mereka semakin kesakitan saat terkena sinar matahari dan semakin sesak nafas saat mereka menghirup udara segar. Pandangan mereka juga mulai menghilang. Gelap total, itu yang dirasakan oleh Halia dan kedua temannya. Entah penyakit apa yang mereka alami dan sesakit apa yang mereka rasakan, tapi yang pasti itu sangat mengerikan.

Satu Minggu kemudian, satu persatu penduduk Sand Island mulai meninggal dunia. Jasad mereka sangat mengerikan, kulit mereka lepas dari tubuh mereka dan tubuh mereka penuh dengan belatung disertai bau yang tidak sedap. Jasad mereka tergeletak dimana mana dibiarkan begitu saja. Tidak ada yang berani menguburnya.

The entire population on Sand Island who was previously affected by a mysterious disease has now passed away. Their bodies were horrific, their skin peeled off their bodies and their bodies were covered with maggots. Until now we still do not know for sure what disease they suffer from.” Cuplikan berita di salah satu negara.

Ini benar-benar menjadi pembicaraan dimana-mana, tak ada seorang pun yang berani berkunjung ke Sand Island. Meskipun keluarga mereka berada di Sand Island, tapi mereka lebih memilih tinggal di negara yang saat ini mereka tempati. Seluruh dunia sedang berduka atas tragedi yang dialami oleh penduduk di Sand
Island. Selama satu bulan, seluruh negara mengadakan upacara untuk menghormati penduduk di Sand Island.

“The Sand Island, A small island full of natural wealth, people say it’s beautiful. But now it has turned into a spooky island.”
In Memoriam, Sand Island Teluk yang menangis, 1998.

75 thoughts on “Matematika Berkarya – Teluk Yang Menangis

  1. Btw btw, ini ada hubungannya dengan cerita Dia dan Waktu loh!! ga penasaran apa dengan endingnya?

  2. jadi, endingnya tuh keren gess.. kalian harus banget baca dari judul yang ini baru ke yang satunya

  3. Jadi ceritanya nih memang ku bikin saling berhubungan.. dan kalian wajib banget baca dari cerita yang ini, biar konfliknya dapet..

  4. Pliss.. ngeri cerita ne pas bagian “… Jasad mereka sangat mengerikan, kulit mereka lepas dari tubuh mereka dan tubuh mereka penuh dengan belatung disertai bau yang tidak sedap. Jasad mereka tergeletak dimana mana dibiarkan begitu saja. Tidak ada yang berani menguburnya.” merinding dikit.

  5. “Semua negara panik, takut akan mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh penduduk di Sand Island.”

    siapa sih yang gak panik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top