Himatika Vektor UM Bima Satriya

“Najea Kena Maling Lagi” – Bima Satriya Yudha

Sudah enam kali pintu kulkas di ruang dapur kos-kosan itu dibuka tutup oleh laki-laki cantik yang kenakan kaos biru ini. Dimana potongan puding coklatnya yang kemarin malam sengaja dia sisakan untuk pagi hari ini? Kenapa cuma tinggal piring cepernya saja? Najea marah besar hari itu. Najea kira pelaku hanya salah ambil saja. Ya, betul seharusnya begitu. Tidak mungkin ada yang sengaja mengambil pudingnya.

Mungkin hari itu Najea sedang sial saja, benar?

Najea kira begitu, tetapi besoknya, Najea menekuk wajahnya jengkel ketika dia membuka kulkas dua pintu itu dan temukan gelas jus jambunya yang habis tiga perempat. Kali ini jus jambunya yang hilang, besok apa lagi? Maling kecil ini memang suka mencuri barangnya ya? Kenapa hanya miliknya saja yang hilang? Dengan penuh emosi, Najea silangkan tangannya di dada. Baiklah, berarti ini artinya perang!

Siang itu, Najea simpan susu stoberi miliknya di kulkas dengan secarik kertas melingkar di kotak susunya. ‘Susu eksperimen kimia, jangan diminum!’ Dirinya tertawa licik, pasti kalau begini tidak akan dimaling, batinnya. Tetapi besok paginya, Najea lagi-lagi temukan susu stroberinya yang habis. “Hah! Apa si Maling itu gak baca ini susu eksperimen?

Bendera perang Najea belum juga turun setelah dua minggu dengan siklus yang sama. Najea dongkol, taruh kertas ‘jangan dimakan ini daging babi’ lalu paginya makanan yang disimpannya tetap hilang. Begitu terus sampai akhirnya Najea mulai menaruh curiga pada semua penghuni kos-kosan ini. Sialan mana yang curi makanannya akhir-akhir ini?

Malam ini, Najea tidak ada kelas kuliah. Dia bisa leluasa amati siapa saja yang lalu lalang depan kulkas dua pintu itu. Di dalamnya, sudah Najea taruh sebatang coklat manis kesukaannya untuk seret minat si Maling. Rencananya hanya ingin tangkap basah pelaku di tempat. Najea terkikik, perang ini dia yang akan menang!‘ Jangan makan coklat batangan di kulkas, itu punyaku’ Najea mengirim pesan di grup kos-kosan untuk pancing pelakunya. Lima belas menit berlalu, Najea bolak-balik melirik jam bundar di dinding. Ini sudah jam sembilan malam, tetapi Najea belum temui seseorang yang membuka kulkas itu. Jangankan membuka pintu kulkas, sekedar melewati dapur saja tidak ada. Mata Najea mulai berat, mungkin malam ini dirinya belum beruntung buat tangkap si Maling itu.

“Kak Na, jangan tidur di dapur,” Najea kedipkan matanya sadar. Sejak kapan dirinya terpejam? Matanya menyusuri dinding dapur, mencari jam bundar untuk sadari bahwa dirinya telah terlelap selama dua jam. Sekarang jam sebelas malam. Najea mengumpat pelan, buru-buru dia membongkar kulkas untuk cari apakah pencuri kecil itu sudah rampas coklat batangnya atau belum.

“Cari apa, Kak Na?” Tangan Najea berhenti, dia tolehi suara di belakangnya. Itu Juan, anak hamster semester satu yang baru saja pindah dua bulan lalu ke kosan ini. Pandangan Najea jatuh ke tangan kanan si bungsu yang tengah memegang bungkus jajan coklat.

Mata Najea membola, “Juan! Kecil-kecil sudah jadi pencuri!”

“Aduh! Memangnya Juan mencuri apa, kak?” Juan meringis kesakitan saat jemari yang lebih tua itu jewer telinganya. Malam ini dia hanya kelaparan karena menugas dan turun untuk ambil jajannya yang dia simpan di kulkas, tetapi tiba-tiba dia dapat tuduhan mencuri. Sudah begitu dijewer pula.

“Kamu yang dua minggu terakhir ini suka mencuri jajanku, ‘kan?”

Rupanya, teriakan Najea telah undang beberapa penghuni kosan untuk turun dan menengok, masalah apa malam-malam begini di dapur?

“Kenapa teriak malem-malem, Na?” Kasian, mahasiswa tingkat akhir itu turun dengan mengusap matanya yang miliki kantung mata gelap. Najea merasa tidak enak telah buat kakak tingkatnya yang sedang pusing skripsi itu terganggu.”Maaf Mas Yan,” baru ingin meminta maaf, Najea malah temukan noda coklat di sudut bibir yang lebih tua, “oh! Mas Iyan, ya, yang mencuri coklatku? Juga makananku dua minggu ini!” menemukan dua tersangka, Najea makin ribut. Dia menarik kerah Kaspian dan Juan penuh emosi untuk mintai keterangan mereka.

“Astaga, bukan aku, Na,” Kaspian usap noda coklat di bibirnya.

“Mas Iyan, Najea, Juan! Kalian berisik! Ada apa, sih?” Astaga, kali ini apalagi? Najea menoleh ke arah pintu dapur, empat teman kosannya datang dengan tangan yang belepotan coklat. Walah! Kenapa kebetulan hari ini semuanya makan coklat! Najea bingung, sekarang ada enam tersangka yang mencuri makanannya.

“Kenapa Na?” Jeremi, teman Najea sejak sma itu meletakkan tangannya di bahu Najea saat bertanya. “Dua minggu ini makananku hilang terus,” Najea menyingkirkan tangan Jeremi dengan kesal. “Pasti di makan Mas Esa,” Raja, teman sekamar Juan, terkekeh, “cuma dia tukang makan di kosan ini.”

“Apa? Yang mulia ini bilang apa?” Esa mengejek adik tingkatnya. Raja mendengus jengkel, dia tidak pernah suka dipanggil seperti itu. Kata itu semacam sedang meledek namanya. “Sudah cek cctv?” Raden, tersangka terakhir yang paling bisa berpikir jernih itu membuat Najea dan kelima orang yang sedang berdebat berhenti. Benar juga, bagaimana mereka bisa lupa. Di kos-kosan ini ada cctv!

Malam ini, ketujuh remaja laki-laki itu segera berlari ke kamar ibu kos mereka, “Bu! Najea kecolongan, bu!” “Apa? Siapa yang kecolongan? Kosan ini keamanannya dijaga ketat sama Joko!” Joko, anjing jantan yang sudah tua itu menggonggong ringkih di pojok kamar ibu kos.Najea dan teman-temannya mengangguk.

Wah, iya. Sangat aman. “Dua minggu belakangan ini, makanan saya hilang melulu, bu,” Najea mengadu. Ibu kos yang diserbu tujuh remaja itu mengangguk dan segera mengambil gawainya, mencari rekaman cctv hari pertama Najea kehilangan pudingnya. “Ini, bu! Menit kedua belas! Waktu itu saya baru pulang dari kampus dan ngantuk berat. Puding coklat yang awalnya mau saya makan, saya simpan buat dimakan besok pagi. Lah kok besok paginya, pudingnya hilang!”

Najea elukan semua emosinya. Dia bercerita dengan menggebu-gebu. Akhirnya dia akan tahu siapa maling kecil ini!

Ibu kos itu mempercepat rekaman cctv ke menit berikutnya. Benar saja, tengah malam dalam rekaman itu ada tuyul kerdil yang membuka kulkas kosan dan mencuri sepiring puding coklat milik Najea. Esa, yang paling heboh dengan kasus ini, bersorak, “Itu pencurinya!”

Kata Esa, dia serasa ada di dalam serial dektektif yang sering dia baca sebelum tidur. Raja yang masih jengkel dengan Esa menyeletuk asal, “Postur pencurinya mirip Kak Esa, ya.” “Kalau begitu mohon ampun Yang Mulia!” Esa semakin mengolok-olok Raja yang wajahnya sudah merah padam.

Najea pandangi pelaku yang sedang membelakangi cctv itu dengan raut tidak enak. Sepertinya dia tahu siapa itu. “Oh, saya sudah tahu siapa pelakunya bu. Terima kasih. Sekarang kita kembali tidur aja, udah malem, hehe,” Najea tekan tombol pause di gawai ibu kos yang terus putar rekaman itu. Tangannya bergerak mengusir teman-temannya.

“Loh? Pelakunya belum balik badan. Kita belum tahu wajahnya, Na,” si Sulung, Kaspian, bingung.“Aku sudah tahu itu siapa, mas! Jadi lebih baik kita tidur aja. Hehe,” Najea meringis pelan. Rautnya yang panik itu buat teman-temannya menaruh curiga. Tadi Najea koar-koar memarahi semua yang membuka kulkas, tetapi sekarang dia malah terlihat akan melepaskan si Pencuri.

Ini aneh. Raden dan Kaspian saling toleh, mereka mengangguk bersama. Setelahnya, Raden mengunci gerakan Najea dan Kaspian menekan kembali tombol pause untuk lanjutkan rekaman yang sebelumnya diberhentikan Najea. Rekaman itu masih tampilkan si Maling yang terus punggungi cctv. Sepertinya dia masih memakan pudingnya. Kaspian mempercepat rekamannya hingga si Maling itu berbalik. Memangnya wajah siapa ini?

Hingga buat Najea berubah pikiran untuk tangkap pelaku?

Kaspian memberhentikan kembali rekaman itu. Layar gawai itu tunjukkan wajah cantik dengan kaos biru jalan meninggalkan ruang dapur dengan mata yang terpejam.

“Itu Najea!”

Semua orang di ruangan itu menoleh minta penjelasan pada Najea yang terkekeh canggung, “Ah, aku bisa jelaskan…”

Astaga, bagaimana Najea bisa lupa jika dirinya punya kebiasaan tidur berjalan.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top