“Pembohong” – Fariska Triana Sari
“Ya aku sedang memikirkannya”
Dasar pembohong. Seringai meremehkan dapat kurasakan mulai terpatri pada wajahku. Lihatlah senyum cerahnya yang seolah tanpa luka itu. Seolah-olah jadi orang paling baik-baik saja diantara kami. Seolah sudah melupakan dunia yang membuat aku dan adikku ada di dunia ini. Kepalsuan yang menjijikkan.
Sudah berapa tahun telah berlalu? Dia hanya tersenyum di sana sini ketika ditanyai hal yang sama. Katanya : akan memikirkan itu, tengah memikirkan itu, masih mencari uang, dan sebagainya. Hanya alasan dan terus saja alasan yang keluar dari bilah bibirnya yang lihai merangkai kata-kata manis seperti politisi yang tak yakin dengan perkataannya sendiri.
Hari-hari yang dilaluinya begitu nyaman, seolah itu sudah menjadi kebiasaannya selama ini. Kapan dia menangis kecuali saat itu? Atau dimanakah dia diam-diam menangis meratapi hari itu? Tidak ada seorangpun yang tahu. Dia begitu lihai menyembunyikan perasaannya terhadap luka yang satu ini.
Di suatu kesempatan sempat terbesit dalam kepalaku. Apa mungkin manusia ini berhati batu dan tak mengerti rasa luka? Apakah manusia ini sama sekali tak punya hati? Tapi bukankah hal semacam ini mustahil? Manusia selamanya akan menjadi manusia. Hati rapuh khas manusia itu pasti tetap ada dalam jiwanya. Tapi mengapa bayangnya pun sama sekali tak terlihat? Aku yang buta atau dia yang sangat jeli menyembunyikannya dari anak-anaknya?
“Jika ayahmu menikah lagi, apa kau tak keberatan?”
Seseorang bertanya padaku secara tak terduga dihadapannya yang tengah senyam-senyum seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Lantas dengan senyuman yang sama aku dengan enteng menjawab : “mengapa aku harus keberatan?” Dan dengan nyata kulihat sekilas senyumnya berubah. Hanya sepersekian detik sebelum kembali ke senyum sebelumnya.
Saat itulah aku merasa dugaanku tepat sasaran. Dia tak lebih dari seorang pembohong ulung. Yang terus menerus menyembunyikan perasaannya sendiri. Tak ingin berbagi luka hanya karena dirinya seorang lelaki. Tak ingin berbagi luka hanya karena ‘dipaksa tegar demi anaknya’. Mungkin dalam pikirnya, jika dia menangis, siapa yang akan menenangkan anaknya yang juga menangis? Anggaplah dia terlalu peduli agar hatiku tak begitu terluka dengan kenyataan yang ada.
‘Sedang memikirkan’? Itu hanya dalih yang digunakannya untuk menghibur hati khalayak. Kurang lebih seperti para politisi yang mengumbar janji manisnya. Kurang lebih begitulah penggambarannya. Aslinya hatinya rapuh dan sudah terikat. Aslinya, hatinya sudah terkubur bersama raga tanpa nyawa itu beberapa tahun silam.
Mengingat caranya menangis dihari terakhir itu membuatku semakin yakin. Pembohong ini sudah menempatkan hatinya begitu dalam, sangat dalam dan hampir tak terlihat. Tapi memiliki efek yang maha dahsyat.
Jika pun kembali ku putar ulang semua ingatanku. Yang paling konsisten urusan langit itu dia. Ya, si pembohong ini. Dari hari pertama hingga hari ke 40. Di setiap malam Jum’at setelahnya selama bertahun-tahun dan mungkin akan berlanjut sampai dia menemukan hati lain—tidak, bahkan itu akan sampai akhir hayatnya jika benar dia seorang pembohong.

