Matematika Berkarya - Tentang Senja Aleiana

Matematika Berkarya – Tentang Senja Aleiana

Tentang Senja Aeliana

Oleh: Mei


Namanya Senja Aeliana. Gadis mungil yang lahir di bulan Juni dengan senyuman manis. Tidak seperti namanya, ia lahir ketika Fajar hadir dengan malumalu menyapa pagi. ia lahir tanpa dekapan hangat seorang ayah, melainkan disambut langsung oleh mentari pagi. Katanya, ayahnya punya banyak cinta yang harus dibagi, jadi pada hari itu ayahanya lebih memilih untuk menemani mantan kekasihnya berbelanja di kota lain.

Nama Senja diberikan oleh ibunya agar dia menjadi gadis selembut senja sore hari. Menjadi gadis yang dinanti setiap orang dan mampu memberikan kehangatan tepat sebelum malam merenggut terang. Senja selalu meminta orang di sekitar memanggilnya “Lian“, tapi aku menolak dan memilih “Senja” sebagai nama kesayangan.

Benar, sudah lima tahun aku memendam rasa pada teman masa kecilku ini. Rumah kami hanya terpaut beberapa langkah, bahkan Ayah dan Bunda sudah menganggap Senja seperti anaknya sendiri. Begitupun adikku, Kirana, yang lebih menghormati Senja sebagai kakaknya daripada aku.

Senja hidup berdua dengan ibunya di rumah kecil berwarna hijau muda. Ibunya adalah pekerja kantoran yang jarang sekali pulang. Sedangkan ayahnya memilih untuk menceraikan ibunya ketika Senja masih berusia 5 tahun. Senja tidak menangisi keputusan ayahnya. Ketika tahu ia akan hidup terpisah dari ayahnya, gadis itu tersenyum. “Akhirnya setelah ini nggak ada lagi yang pukulin aku sama ibu.”, katanya.

Senja sering menungguku di dekat taman fakultas sastra selepas kuliah agar kami bisa pulang bersama dan mampir ke beberapa tempat yang ia sukai. Memoriku tentang Senja selalu tentang tangisannya di kala senja. “Aku mau pulang.” Kalimat itu selalu diakhiri dengan suara tangisannya yang diamdiam bermuara. Tangannya yang ringkih menutup kedua wajahnya yang tirus. Netra kelabunya selalu melekat dalam ingatanku.

Senja, gadis mungil yang menyembunyikan semuanya di balik sifat dinginnya. Hari itu, Sabtu kedua di bulan Agustus, adalah waktu yang biasa kami isi untuk bercengkrama di teras rumahnya hingga malam merenggut hangat.

Sore hari itu, aku mempersiapkan diri untuk kembali mendengar keinginannya untuk pulang ke rumah. Namun hari itu, dia memilih pulang. Entah bagaimana caranya dia tahu kalau itu adalah waktu yang tepat untuk pulang. Mungkin Senja hanya tahu. Aku masih ingat butiran putih di samping tubuh mungilnya yang tergeletak dingin pada lantai ruang tamu.

Senja, hari itu kamu memilih pulang.
Dan hari ini, senja sore hari masih menyapaku sebelum malam berbintang datang.
Senja, kamu pulang ke rumah yang salah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top