Matematika Berkarya – 7 Langkah
7 Langkah
Karya: Nova Ade Sonata
[Content warning]
Written in Bahasa, horror (not really), death, funeral, graveyard, mentioning angel and ghost, mentioning stuff of one religion
—
Entah sudah keberapa kali Pandu menjumpai pria tua berpenampilan lusuh yang memerhatikannya dari balik pohon kamboja tiap Pandu dan petugas medis lain mamakamkan jasad manusia yang gagal dalam mempertahankan hidup mereka.
Area pemakaman memang harus steril dari warga sekitar, pria tua itu juga sudah diminta petugas medis lain untuk meninggalkan tempat ini namun ia bergeming.
Melansir dari tukang ketoprak di depan pemakaman, katanya, pria itu agak kurang waras.
Ya sudah, selama pria itu hanya memerhatikan, tidak berbuat macam-macam, jadi ia tetap dibiarkan berdiri di sana.
Jasad terakhir hari ini telah selesai dimakamkan dan Pandu adalah orang terakhir yang pergi meninggalkan makam karena memberikan doa tambahan kepada seseorang di balik gundukan tanah ini.
Setelah selesai, Pandu melangkah pergi. Netranya menangkap si pria tua, yang katanya agak kurang waras, masih berdiri di tempatnya, di balik pohon kamboja.
Ketika hampir melewati pria itu, Pandu sedikit menganggukkan kepala untuk menyapa.
“Tujuh langkah.”
Pria di sebelahnya bersuara, namun terlalu kecil untuk didengar. Pandu kira pria ini berbicara dengannya. Maka menurutnya tidak sopan bila Pandu terus melangkah maju, jadi ia berhenti dan menoleh ke pria itu.
“… Ya, Pak?” tanya Pandu sambil mencoba mendekat.
“Tujuh langkah dari orang terakhir yang menguburkan menjauhi makam, lalu para malaikat akan mendatangi manusia malang itu.”
Pria itu menatap lurus ke arah makam yang baru saja Pandu tinggalkan tanpa menoleh sedikit pun ke lawan bicaranya.
Pandu yang mengetahui hal yang dibicarakan pria itu kontan membalas, “Lalu?”
“Saya hanya ingin melihat apa manusia malang itu dapat menjawab tiga pertanyaan yang ditanyakan atau tidak.”
Pandu yang mulanya santai, kini agak tersentak. Apa maksud pria itu—
“Ya, saya melihatnya. Bahkan sosok menyerupai anak kecil yang dimakamkan tempo hari yang duduk di pundakmu, saya juga melihatnya.”
Hal terakhir yang Pandu ingat adalah teriakan dari salah satu rekannya sebelum tubuh laki-laki itu menyentuh tanah dan semua menghitam.

