Matematika Berkarya – Pameran Berdarah

Matematika Berkarya - Pameran Berdarah

Pameran Berdarah

Karya: Fani Rahmawati Husna

 

Hal pertama yang aku pikirkan setelah membuka mata adalah apakah aku masih mempunyai dua kakiku utuh. Sebab terakhir kali aku lihat, ada logam panas menancap di paha kiriku, membuat darah keluar tiada henti. Tidak usah dibayangkan rasanya bagaimana kalau kau masih menangis ketika terkena pisau dapur atau jarum sulam. Kukira pelurunya menembus tulang keringku. Syukurlah, hanya dililit perban tidak diamputasi.

Tidak tahu bagaimana nasibku kalau Simon tidak segera membawaku keluar dari ruang pameran. Mungkin aku menjadi bagian dari puluhan orang yang terkapar bersimbah darah. Setelah kejadian itu, aku berjanji akan lebih rajin datang ke gereja. Bisa dibilang ini kesempatan kedua dari Tuhan, barangkali Dia menyuruhku untuk memperbaiki kehidupan. Untuk mengaku pada Barb kalau aku yang mematahkan spion mobilnya, bukan pengendara lain. Juga meminta maaf pada Pak Sangster karena aku sengaja menumpahkan kopi di jawaban kuis kelasku. Dan berbagai kesalahan yang aku perbuat.

Aku kira malam itu aku bisa menikmati karya Simon Mayfield dengan perasaan bahagia bercampur bangga. Simon, anak laki-laki paling malang di Lexington, setidaknya menurutku begitu. Dia selamat sama sepertiku, meskipun begitu aku yakin dia sangat terpukul atas tragedi penembakan di acara pameran perdananya. Sekilas tentang Simon, kami bertetangga sejak aku lahir. Hanya jarak dua rumah, aku di 611 Shropshire Ave, dia 614. Ayahnya meninggal saat dia berusia enam tahun karena kecelakaan pesawat dan sampai sekarang jasadnya tidak pernah ditemukan di laut Baltik. Sejak saat itu, dia jadi aneh. Itu terlihat jelas pada gambar-gambar yang dibuatnya.

Kami cukup dekat kurasa dan karena itu aku sangat tahu hobinya, yakni menggambar. Objek menggambarnya kebanyakan hewan dan tumbuhan. Aku ingat saat dia menggambar kumbang berwarna merah di lenganku dan tidak aku hapus selama seminggu saking begusnya. Gambar yang indah berubah menjadi monster. Kusebut monster karena Simon menggambar, aku tidak yakin, tapi menurutku sejenis titan? Perpaduan dua hewan, misal kuda dengan tiga kepala, katak dengan kaki panjang, brokoli bersayap, dan masih banyak makhluk aneh menyeramkan lainnya.

“Hai, Simon, mengapa kau menggambar di buku Jonathan? Dia akan menghajarmu kalau tau,” tanyaku kala itu saat kami kelas lima. Simon tidak menjawab, malah menyempurnakan gambar beruang dengan mata yang besarnya tidak seimbang dan lidah yang menjulur panjang. “Ini Jonathan,” kata Simon kemudian berlalu begitu saja. Aku tahu dia sangat kesal dengan Jonathan karena dia menyebut Simon dengan Bocah Aneh dan anak-anak kelas ikut-ikutan.

Bukan tanpa alasan Simon mendapat julukan itu. Sebab kuakui, bukan hanya gambarnya yang berubah, tapi sikapnya juga. Lebih pendiam, lebih banyak menggambar dari pada berbicara. Terkadang juga marah-marah hanya karena hal sepele, Jonathan menarik rambutnya misal, setiap hari. Tidak ada yang mau menjadi teman Simon, kecuali aku. Karena kupikir perubahan sikap Simon itu bisa dimaklumi. Siapa yang tidak sedih saat ditinggal ayahnya selama-lamanya? Simon hanya meluapkan kesedihannya pada kertas, krayon, dan pensil. Dia pendiam karena sebagian atau bahkan seluruh dunianya hilang bersamaan dengan jatuhnya Airbus A320.

“Hai, Bocah Aneh! Pasti kau yang menggambar di dinding pagar Pak Sangster!” tuduh Alex waktu itu.

Simon dengan wajah datarnya menghampiri Alex dan kawanannya tanpa rasa takut. “Bukan aku.” Dari nada bicara yang aku dengar, aku yakin Simon sangat marah. “Pergi, kau!”

“Kau berani karena kau sudah menemukan ayahmu? Suruh ayahmu membersihkan mural bodoh itu!”

Simon mendorong tubuh Alex yang lebih besar dari tubuhnya hingga mundur beberapa langkah. Dua teman Alex dengan sigap memegangi tangan Simon. Alex dengan tanpa ampun memukul bocah dua belas tahun itu. Aku tidak tahu harus melakukan apa selain berteriak minta tolong, tiga orang itu lalu kabur. Wajah Simon penuh luka, itu bukan luka pertama. Butuh berpuluh halaman kalau aku menceritakan kisah perundungan Simon. Kecoa di dalam loker, difitnah mencoret-coret meja guru, sol sepatu yang sengaja disobek, dan segala bentuk gangguan lainnya sepanjang masa sekolah dasar dan sekolah menengah Simon.

Yah, itu semua hanya potongan kisah sekolah. Masing-masing dari kami beranjak dewasa dan menganggap perundungan itu sebatas tingkah anak-anak. Tekanan demi tekanan yang Simon terima tidak lantas membuatnya semakin menjadi Bocah Aneh sesungguhnya. Dia berhasil menjadi mahasiswa seni di Universitas Kentucky. Kariernya semakin bagus sampai akhirnya dia berhasil mengadakan pameran lukisan perdananya di Hotel Marriotts.

Aku mengajak Barb untuk datang ke pameran Simon. “Ajak temanmu yang lain,” kata Simon saat mengundangku lewat pesan. Dia juga mengundang seluruh teman-teman sekolah dan guru-guru, termasuk Jonathan. Tapi sepanjang acara aku tidak melihat Alex. Selain itu, undangan lain adalah orang-orang penting dengan setelah tuxedo mahal dan beberapa orang yang tampak sebagai kurator dan kolektor. Simon tampak atraktif menjelaskan setiap lukisan kepada para orang penting itu. Sangat berbeda dengan dirinya belasan tahun yang lalu.

Kebanyakan lukisannya bertema abstrak, bukan lagi makhluk titan menyeramkan. Bagi orang yang lumayan suka karya seni, karya Simon ini hampir sama seperti karya Adolf Got Lieb tapi beberapa bercorak tumbuhan, yang mana itu menjadi ciri khas tersendiri. Ditambah alunan musik yang menambah kesan mewah. Sponsornya pasti banyak melihat kemewahan disana-sini. Sempurna. Kondisi masih normal dan menyenangkan. Aku dan Barb berkeliling untuk melihat 60 lukisan yang dipajang. Sepertinya tidak bisa melihat semua karena sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk bercakap-cakap dengan teman lama dan mengenalkan Barb pada mereka, sekalian reuni.

Keadaan mulai berubah saat suara tembakan dua kali terdengar, tak lama dua orang asing memasuki ruang pameran dengan masing-masing pistol. “Selamat malam, Tuan dan Nyonya,” kata salah satu dari mereka sambil menodongkan pistol dan tertawa tanpa alasan. Semua berteriak panik, berhamburan kesana-kemari, ingin keluar tetapi semua akses ditutup. Tidak ada satupun . Dalam kepanikan itu, Jonathan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi 911. Namun terlambat, penembak itu mengarahkan pelurunya tepat di dahi, meninggalkan bekas lubang berdarah dan tubuh Jonathan yang terkapar. Suasana semakin tidak terkendali. Orang-orang berusaha melindungi diri dengan mencari tempat sembunyi termasuk aku dan Barb. Kami berdua terpisah.

Pameran dipenuhi teriakan dan suara tembakan bertubi-tubi. Dua penembak itu memantik pistol membabi buta dan acak. Bercak darah dimana-mana. Mayat-mayat bergelimpangan di lantai. Barb, aku melihatnya tergeletak dengan luka tembakan di dadanya. Itu sangat mengerikan dan rasanya dadaku sesak bila mengingat itu. Tidak ada waktu untuk berkabung, aku harus menyelamatkan diri menuju pintu menuju basecamp. Sialnya aku tidak menghafal denah pameran yang sebenarnya sudah tersedia untuk pengunjung. Yang bisa aku lakukan sebisa mungkin tidak terlihat oleh dua orang pembunuh itu. Ini benar-benar mimpi buruk yang jadi kenyataan! Bahkan aku tidak pernah membayangkan pembantaian massal seperti ini.

Duarr!

Aku tak sangggup berlari saat peluru itu menancap paha kiriku. Apa yang harus aku lakukan? Pura-pura mati agar penembak itu tidak menembakku lagi sampai aku benar-benar mati? Itu adalah pilihan terbaik sebelum Simon membantuku berdiri. Aku berjalan terseok-seok sambil menahan rasa perih paling menyakitkan dalam hidupku. Dia membawaku menuju pintu darurat belakang. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.

Kata perawat, aku tidak sadarkan diri selama dua hari setelah operasi untuk mengeluarkan peluru dari kakiku. Setelah mengingat kejadian itu, aku teringat Barb dan teman-teman sekolahku yang tewas. Lalu siapa pelakunya? Apakah perundungan Simon masih berlanjut? Mungkin pelakunya orang yang iri dengan Simon, seperti Alex. Yah, aku tau itu pemikiran yang kekanak-kanakan. Selama empat tahun Simon banyak bertemu orang yang tidak kukenal.

“Hai, Madison. Bagaimana perasaanmu?” Simon masuk ke ruanganku sambil membawa bunga. Ia lantas meletakkannya di nakas.

“Hai, Simon,” sapaku. Pertama, aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Kedua, aku bertanya soal kelanjutan acara pamerannya, termasuk evakuasi, penangkapan, dan nasib lukisan-lukisan Simon yang berharga.

Untungnya laki-laki itu mau bercerita. “Singkatnya, mereka adalah pria bersenjata yang sedang mabuk. Lalu tiba-tiba masuk ke acaraku. Kata polisi, mereka depresi karena keluarga mereka terlilit hutang yang banyak.”

“Mabuk?” tanyaku hampir tidak percaya.

“Ya. Kau tidak bisa mengontrol dirimu sendiri saat di bawah pengaruh alkohol.”

“Lalu mereka?” tanyaku semakin penasaran.

“Ditahan. Tapi aku membantu keluarga mereka dengan mendonasikan hasil lukisanku. Dan beberapa korban meninggal, aku membantu biaya pemakamannya. Seharusnya mereka bersenang-senang di rumah atau dengan teman-teman mereka, bukan ke pameran berdarahku.” Terdengar nada merasa bersalah.

Aku berusaha menghiburnya dengan menepuk lengannya ringan. “Kau orang yang sangat baik yang pernah aku kenal, Tuan Mayfield. Kau akan mendapat ganti yang lebih baik.”

Simon menghela napas panjang. Matanya menyapu peralatan mesin dan kabel yang membantuku bertahan hidup selama dua hari terakhir. Sorot matanya berubah dingin dengan senyum miring yang tidak biasa. “Hei, Madison. Sebetulnya aku sempat berbicara dengan dua orang penembak itu. Mereka tidak menceritakan ini ke polisi, tapi karena aku akan membantu keuangannya jadi mereka berbicara jujur padaku.”

Rasa penasaran menyeruak keluar. “Apa katanya?”

“Katanya, mereka disuruh orang yang ingin balas dendam kepada teman-teman sekolahnya karena telah membuatnya menjadi monster.”

Jantungku berdetak dua kali lebih cepat memompa darah ke seluruh tubuh. Menghangat menjalar melewati setiap pembuluh darah. Keringat dingin membasahi setiap jengkal kulit. Aku takut menatap mata dan senyum Simon Mayfield. Aku ingin menelpon polisi tapi badanku membeku.

“Terima kasih sudah bersedia menjadi temanku, Madison.”

~ ~ ~

 

One thought on “Matematika Berkarya – Pameran Berdarah

  1. เว็บตรง เราเป็นเว็บตรงที่มีเกมให้เล่นมากมาย โปรโมชั่นเพียบ โบนัสเยอะ เล่นได้ทั้งบนมือถือ และเครื่องคอมพิวเตอร์ ฝากถอนด้วยระบบอัตโนมัติ เล่นได้โอนเต็มจำนวน

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://coverletterwritingservice.com