Matematika Berkarya – My Great Lost Love

Himatika Vektor UM 3

My Great Lost Love

Oleh: amare

S1 Matematika/2022

 

2021

Hai, namaku Aira. Hari ini adalah hari pertama dalam bulan suci Ramadhan. Meskipun bulan ini bulan spesial, tapi hariku tetap saja tidak ada yang berubah. Aku masih suka tidur setelah sholat subuh dan aku juga masih suka goleran di kasur bermain ponsel seharian sembari menunggu giliran waktu adzan sholat. Padahal ibuku sudah berkali-kali mengatakan kalau itu tidak baik, tapi tetap saja aku terus melakukannya.

Ditengah memikirkan konten ASMR apa yang harus aku tonton yang menurutku dapat menurunkan rasa laparku, tiba-tiba temanku mengirimkan pesan padaku. Begini isi pesannya.

“Nanti sholat tarawih, nggak?” tulisnya.

“Sholat, kan belum logout”

“Buset deh, bareng ntar ya,”

Namanya Kahita, teman masa kecilku. Meskipun dia dua tahun lebih tua dariku, namun dia memperlakukanku seperti teman sepantaran dengannya dan tidak meninggikan rasa senioritasnya. Tenang saja, aku masih memanggilnya ‘Mbak Kahita’ untuk menghormatinya.

Malam itu benar terjadi, aku dengan Kahita ke musholla Ar-Rahman dekat rumah untuk melaksanakan sholat tarawih. Mataku berpendar mengamati tiap sudut musholla yang tatanannya sudah sedikit berubah dan mulai membangkitkan memori masa kecilku yang kuhabiskan di musholla ini tiap matahari akan tenggelam.

Memori yang paling kuingat adalah dimana teman-temanku termasuk aku berdebat urutan giliran untuk membaca Al-Qur’an karena urutan barisan ditentukan siapa yang datang duluan ke musholla. Tidak jarang karena salah mengira urutan barisan ada saja yang merajuk dan tidak mau bicara sampai waktu mengaji selesai. Merajuk itu masih bisa diatasi, besok juga akan baikan lagi. Tapi kalau sudah ada yang sampai menangis keras, ampun deh. Jadi saat pertama kali menginjakkan kaki di musholla setiap anak termasuk aku suka sekali menghitung orang yang sudah datang atau kadang menghitung sandal dibawah tangga agar ketahuan nanti berada diurutan keberapa.

“Ra, ikut tadarusan?” ucap Kahita setelah melipat sajadahnya ditengah jamaah yang mulai meninggalkan tempat karena sholat tarawih telah usai

“Iya, Mbak. Mbak ikut nggak?”

“Ikut deh, banyak yang ikut tuh.”

Setelah mengambil Al-Qur’an aku melihat semua orang yang ikut tengah membentuk lingkaran. Aku berdiri berdiam diri sembari mengamati dan mencari celah kosong diantara mereka agar aku bisa bergabung dengan mereka.

“Aira! Sini!” Kalau ini adalah suara Ade. Sama seperti Kahita, dia juga dua tahun lebih tua dariku. Dia juga teman masa kecilku, teman yang selalu menemaniku saat aku sedang berada dirumah tanteku. Sempat satu sekolah dasar denganku yang letaknya berada didekat rumahku sampai akhirnya aku pindah sekolah ke kota. Ade menganggapku sebagai saudaranya, begitupun sebaliknya.

Aku dan Kahita bergegas mendekati Ade yang memanggil untuk bergabung sembari tersenyum. Aku duduk diantara Ade dan Kahita. Ade menyapaku dan menanyakan kabarku karena dia jarang melihatku datang kerumah tanteku meskipun sekedar membeli galon yang dijual tanteku.

“Ah iya, Mbak. Bulan depan aku ada ujian masuk kuliah, jadi ya jarang keluar. Hehe” jawabku. Dia mengangguk mengerti sebelum ustadzah memulai kegiatan tadarusan. Sembari menunggu giliran membaca aku sempat menoleh ke Ade yang sedang serius menyimak. Aku mengamatinya karena perubahan tubuhnya yang drastis.

Dahulu, Ade dari kecil terkenal karena memiliki badan yang gemuk. Mungkin karena faktor keturunan, pikirnya orang-orang setelah melihat ibu dan neneknya juga memiliki kondisi fisik yang sama. Mungkin Ade sama sekali tidak menghiraukan omongan orang terhadap fisiknya, karena dahulu dia terlihat sangat ceria. Ade masih suka jajan es varian rasa yang manis dan makan ciki. Pernah sekali aku diajaknya pergi ke sawah untuk mencabut batang tebu untuk dia makan saking sukanya sama makanan manis.

Berbeda dengan yang aku lihat sekarang, tubuh Ade nampak kurus. Ade terkena penyakit yang cukup serius, yaitu paru-paru basah. Makin sedih saat kuingat kalau dari dulu sampai sekarang ekonomi keluarganya tidak stabil dan itu berdampak pada pengobatannya yang tidak maksimal. Jadi mungkin butuh waktu lama untuk Ade bisa sembuh total.

“Wah, Ade kurusan ya?” kata Ustadzah setelah mengakhiri kegiatan tadarusan. Semua mata tertuju pada Ade dan menyetujui kalimat Ustadzah tadi. Ade hanya mengangguk dan tersenyum malu kala semua orang melihatnya. Aku yang melihat wajahnya sontak tertawa geli sebelum dipukul ringan oleh Ade karena malu.

“Oh iya, kamu mau kuliah dimana Ra?” tanya Ade sembari menyeruput air mineral gelas yang baru saja dia dapat dari Ustadzah. “Loh, kamu katanya sekolah SMA-nya 2 tahun, toh?” sambungnya.

Aku terkekeh, “Iya, Mbak. Aku pengennya kuliah di Malang. Ujiannya bentar lagi, doain ya?” Ade mengangguk dengan cepat setelah mendengar jawabanku. Aku tersenyum senang melihatnya.

“Katanya, Mbak kerja ya?” tanyaku.

“Udah enggak, soalnya cuti sakit terus. Doain aku cepet sembuh ya? Aku masih pengen kerja biar mama engga kerja terus, aku juga pengen kayak yang lain kemana-mana sama pacar ngapel berdua. Hehe” Aku mengangguk mengerti lalu tersenyum. Aku merasa kasihan karena Ade sudah mendapatkan cobaan berat ini diumurnya yang masih muda. Di umur yang harusnya jadi momen paling bahagia-bahagianya dalam hidupnya.

Dua hari setelahnya saat aku telah menunaikan sholat ashar, ibuku menawariku untuk berkunjung kerumah tanteku. Aku setuju dengan ajakan ibuku karena aku juga ingin bertemu dengan sepupuku dan bermain dengannya. Sesampainya disana, sebelum masuk kerumah tanteku, ibuku disapa dan dipanggil oleh seseorang di seberang sana.

“Airaaa!! Sini, Ra!!” awalnya aku tidak ingin ikut ibu kerumah Ade yang sebelumnya neneknya memanggil ibuku, namun karena Ade memanggilku aku langsung ikut menghampirinya.

Aku memilih berdiri bersama ibuku yang sedang berbincang dengan salah satu keluarga Ade. Yah, tiba-tiba sesi body-shamming sudah dimulai.

“Aira, kayaknya mau gendutan lagi ya?” tanya salah satu saudara Ade tersebut. Ibuku mengiyakan dan membuat klarifikasi kalau aku begini-begitu. Aku yang mendengar itu sudah sangat jengah dan ingin cepat-cepat kabur dari tempat ini.

“Aira kalah nih sama aku, aku nggak usah diet udah kurus aja karena sakit,” celetuk Ade sembari tertawa. Harusnya aku kesal mendengarnya, tapi aku malah ikut tertawa dengannya.

Tawa itu terhenti karena tiba-tiba Ade teringat sesuatu, “Kemarin kamu tarawih enggak?”. Aku mengangguk cepat. Jika diingat kembali, aku baru sadar kalau kemarin Ade tidak datang ke musholla untuk tarawih dan ikut tadarusan. “Aku nggak tarawih karena sakitku kambuh. Aku nggak kuat tarawih. Ustadzah nanyain aku nggak?” sambungnya.

“Nanya kok, disitu ada Dina tapi Dina nggak tahu kenapa Mbak nggak dateng.”

Dina adalah tetangga depan rumah Ade.

“Oh gitu ya, kamu besok tarawih kan? Mungkin aku besok tarawih lagi.” Jawabnya sambil tersenyum.

Namun, baik aku dan dia tidak tahu besok itu kapan.

“Iya Mbak, besok ya.”

Karena dia tidak akan pernah datang ke musholla lagi.

Selamanya.

 

2022

Halo, Mbak Ade. Ini Aira

Masih inget aku nggak? Iya, yang suka diem-diem minum es karena nggak dibolehin sama ibu

Yang tiap weekend kamu datengin dan bangunin buat jadi temen jalan pagi hari

Orang yang selalu kamu panggil “Sayangku,”

Orang selalu kamu ajak buat ngelakuin hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya

Trus yang nggak bisa kupas bawang merah juga waktu bantuin Ustadzah di musholla.

Untung aja Mbak sabar liat aku yang kesusahan ngupas bawang merah yang megang pisau aja nggak bisa.

Tapi, sekarang aku udah lumayan jago tau

Aku udah beberapa kali bantuin ibuku ngupas bawang pas ada acara dirumah

Aku juga udah kuliah di Malang tahun ini

Tahun kemarin gagal, jadi aku ujian lagi tahun ini dan keterima!

Mbak kalau dengar ini langsung pasti heboh banget, hehe

Udah setahun ya,

Udah setahun kamu tidurnya nyenyak gamau bangun

Dan udah setahun juga kamu pergi ninggalin aku

Oh iya, pas Mbak Ade mau dianterin ke tempat tidur hari itu lagi hujan loh

Setauku, Mbak Ade suka banget sama hujan hihi

Gimana? Udah seneng nggak disana?

Pasti dong, kan udah nggak ngerasain sakit lagi!

Aku pengecut ya?

Udah setahun tapi aku sampai sekarang nggak tahu Mbak Ade tidur dimana.

Pas hari itu juga aku nggak berani datang kesana, saking nggak percayanya.

Terima kasih dan maaf,
Terima kasih udah mau jadi temannya Aira
Terima kasih udah mau percaya sama Aira
Terima kasih udah mau pinjemin lengan untuk Aira peluk jika Aira mulai capek sosialisasi
Terima kasih udah ngajarin Aira segala hal apapun itu
Maaf, kalau orang-orang termasuk Aira jahat sama Mbak Ade
Maaf, kalau Aira sampai sekarang belum ketemu sama tempat tidur terakhir Mbak Ade
Sampai ketemu lagi!

 

Fly High, Ade Irmawati.

15 thoughts on “Matematika Berkarya – My Great Lost Love

  1. Penuturan katanya bagus dan halus jadi pembaca lebih bisa mendalami cerita😉, alurnya juga jelas tidak membosankan😊 dan bagus deh pokok walaupun endingnya sad 😪 semangatt nulis yaa 💪🔥😄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://coverletterwritingservice.com